makalah penelitian sastra angkatan 2005 universitas haluoleo
penulisan makalah ini dibawah bimbingan dosen pengasuh matakuliah Penelitian Sastra Ahid Hidayat

Ekspresi Tokoh dalam Cerita Rakyat Bali Geguritan I Dukuh Siladri (Pendekatan Semiotik)

09.22
Oleh: Niluh Mega Ariani (A1D1 05 052)


Abstrak

              Pengenalan pemahaman dan penghayatan peserta didik terhadap nilai-nilai luhur budaya daerah yang menjadi bagian dari kebudayaan nasional adalah amat penting dalam memupuk kepribadian dan kebudayaan bangsa. Menjadi suatu kekuatiran seiring perkembangan zaman yang demikian pesat, pada peserta didik kita terlepas dari akar-akar budaya bangsa. Pengenalan, pemahaman terhadap budaya daerah bukanlah sempit, melainkan untuk memperkaya khasanah budaya nasional, mempererat kesatuan dan persatuan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini dimaksud dengan mengkaji dan meneliti karya sastra daerah dengan pendekatan-pendekatan tertentu, salah satunya adalah semiotik akan dapat mendeskripsikan tokoh dalam cerita sehingga membuka pemahaman dan penghayatan masyarakat atau calon pembaca.
              Masalah pokok dalam tulisan ini adalah bagaimanakah bentuk ekspresi tokoh dalam cerita rakyat Bali Gegurittan I Dukuh Siladri.
              Pencapaian tujuan dalam  penulisan ini, ditetapkan sumber data penelitian yaitu transkripsi dan terjemahan Geguritan I Dukuh Siladri yang merupakan sastra klasik Bali yang diambil dari sebuah lontar milik Gedong Kirlya Singaraja yang dikarang oleh Padanda Nj. Ngoerah yang berasal dari Banjar Teges Cianyar.



PENDAHULUAN

              Pengenalan pemahaman dan penghayatan masyarakat sebagai peserta didik terhadap nilai-nilai luhur budaya daerah yang menjadi bagian dari kebudayaan nasional adalah amat penting dalam memupuk kepribadian dan kebudayaan bangsa. Terlebih dalam zaman kemajuan IPTEK yang demikian pesat saat ini. Selanjutnya menjadi kekhawatiran terhadap masyarakat akan terlepasnya dari akar-akar budaya bangsa. Pengenalan dan pemahaman terhadap budaya daerah bukanlah dimaksudkan untuk kembali ke masa feodalisme dan kedaerahan yang sempit, melainkan untuk memperkaya khasanah budaya nasional, mempererat kesatuan dan persatuan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika serta berusaha mengungkap tabir kedaerahan dan menciptakan dialog antar budaya dan antar daerah melalui sastra sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
              Propinsi Bali cukup kaya dengan sastra daerah yang  mengandung nilai-nilai luhur budaya. Sastra itu mencakup berbagai bentuk dan jenis seperti ungkapan tradisional, cerita prosa, pantun rakyat dan cerita rakyat dalam bentuk geguritan.
       Geguritan I Dukuh Siladri merupakan salah satu sastra klasik Bali yang diambil dari sebuah lontar milik Gedong Kirtya Singaraja yang dikarang oleh Padanda Nj. Ngoerah November 1933. Cerita ini ditulis dengan huruf Bali di atas daun lontar sebanyak 106 helai. Tiap-tiap helai ditulis bolak-balik kemudian lontar ini ditransliterasikan menjadi 75 halaman.
              Cerita ini terdiri dari 764 bait yang dibangun oleh delapan tembang, seperti tembang-tembang Sinom, Durma, Amada, Qandang dan Genanti.
              Cerita Geguritan I Dukuh Seladri dijumpai pula dalam bentuk prosa yang dikarang oleh Kamajaya pada tahun 1986 yang diterbitkan oleh U.P. Indonesia Yogyakarta. Naskah ini berbentuk buku dengan panjang 20,4 cm, lebar 14,3 cm dan tebal 0,4 cm dengan jumlah halaman sebanyak 88 halaman. Pada cerita ini jika dilihat dari isi ternyata masih banyak kekurangannya jika dibandingkan dengan lontar yang tersebut di atas. Pada cerita yang terdapat pada cerita Geguritan I Dukuh Siladri yang berbentuk prosa berakhir dengan matinya I Dayu Ratu. Sedangkan pada lontar Wy. Buyar menemukan ajalnya pada akhir cerita dan Kusumasari sembuh setelah diobati oleh seorang pendeta seperguruan dengan I Mudita.
              Bentuk dan jenis sastra itu sudah agak banyak yang diteliti, baik penelitian yang berasal dari tim-tim peneliti dari proyek penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah Bali dan penelitian yang berasal dari Universitas Haluoleo dan universitas-universitas lainnya. Namun, yang tampak di Universitas Haluoleo jenis penelitian terhadap sastra daerah Bali hanyalah pengkajian dari segi struktur seperti tema/amanat dan alur atau unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsiknya misalnya moral, nilai pendidikan dan nilai budaya yang terkandung dalam cerita tersebut.
              Tulisan ini menggarap tentang ekspresi semiotik tokoh cerita. Dengan kata lain sesuai dengan konsep semiotik. Tulisan ini juga berusaha mengungkapkan sesuatu yang terdapat di dalam cerita yang terdapat di balik tanda/lambang yang terdapat dalam cerita yang berkaitan dengan tokoh cerita seperti kehidupan tokoh, keadaan tempat tokoh, kedudukan dan peran tokoh dan tanda-tanda tertentu.
              Berdasarkan uraian di atas yang menjadi masalah dalam tulisan ini adalah bagaimanakah bentuk ekspresi tokoh dalam pendekatan semiotik cerita rakyat Bali Geguritan I Dukuh Siladri?
              Ruang lingkup  masalah dalam pembahasan ini adalah ekspresi semiotik tokoh cerita rakyat Bali pada Geguritan I Dukuh Siladri. Dalam tulisan ini menggunakan metode deskripsi kuantitatif yaitu berusaha mengungkapkan tokoh sesuai dengan cerita.
              Adapun tujuan yang akan dicapai dari tulisan ini adalah mendeskripsikan bentuk ekspresi atau penampilan tokoh dalam pendekatan semiotik cerita rakyat Bali pada Geguritan I Dukuh Siladri. Dari deskripsi itu diperoleh gambaran mengenai bentuk penampilan ekspresi semiotik tokoh dalam cerita.

Teoritis Tentang Semiotik
              Semiotik memiliki tiga komponen dasar yaitu tanda, lambang, dan isyarat. Tanda selalu menunjuk/mengacu pada sesuatu hal yang nyata, misalnya benda, kejadian, tulisan, bahasa, tindakan, peristiwa dan bentuk-bentuk tanda yang lain. Misalnya petir selalu ditandai oleh kilat. Jadi, tanda adalah arti yang statis, umum, lugas, dan objektif. Lambang adalah sesuatu hal atau keadaan yang memiliki pemahaman si subjek kepada objek. Hubungan antara subjek dan objek terselip adanya pengertian sertaan. Misalnya, warna merah putih pada “sang saka Merah Putih” merupakan lambang kebangsaan bangsa Indonesia. Di samping itu, warna merah pada bendera kita itu juga melambangkan semangat yang tak mudah dipadamkan, sedangkan warna putih melambangkan makna ‘suci, bersih, mulia, luhur, bakti, dan penuh kasih sayang’. Jadi, lambang adalah tanda yang bermakna dinamis, khusus, subjektif, dan kias dan majas. Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan si subyek kepada obyek. Dalam keadaan ini, si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek untuk memberitahukan kepada si objek yang diberi isyarat pada itu juga. Jadi, isyarat bersifat temporal (kewaktuan) (Santoso, 1193: 4-6).
       Pierce (2006: 145) membedakan adanya tiga jenis dasar tanda. Ada ‘ikonis’, di mana tanda mirip dengan apa yang diwakilinya (foto mewakili orang, misalnya); ‘indeksikal’, dimana tanda diasosiasikan dengan apa yang ditandai olehnya (asap dengan api, bercak dengan campak).
       Dikemukakan Junus (dalam Sugira Wahid, 2004: 96) bahwa semiotik merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan semiotik. Alasannya adalah karya sastra itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan sistem tanda, tanda dan maknanya, dan konversi tanda, struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara optimal.


PEMBAHASAN
Dalam cerita ini yang akan dianalisis yakni Geguritan I Dukuh Siladri, Mudita, sebagai tokoh utama.
a.        Kehidupan dan Perilaku Tokoh
Sebuah cerita, termasuk cerita rakyat, pada dasarnya berkisah tentang hidup dan kehidupan tokoh-tokoh. Tokoh-tokoh itu sebenarnya tidak lain adalah manusia. Dilihat dari fungsinya, tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita rekaan (cerita prosa rakyat termasuk cerita rekaan sebab direka sedemikian rupa oleh si pengarang dalam hal ini anonim) lazimnya dibedakan atas tokoh utama sentral), tokoh bawahan dan tokoh tambahan.
Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi pusat kisahan, segala sepak terjang atau prilaku berasal dari dan bertumpu kepada tokoh utama. Siladri adalah tokoh utama dalam cerita Geguritan I Dukuh Siladri sebab alur kisahnya bergerak dari dan bertumpu kepada Geguritan I Dukuh Siladri.

Siklus Kehidupan
Dalam Geguritan I Dukuh Siladri peristiwa kelahiran dan masa kecil I Dukuh Siladri tidak diceritakan namun hanya masa dewasanya saja.
Masa dewasa I Dukuh Siladri dilewatinya  diperantauan. Ia mengembara di hutan yaitu bersama anak dan istrinya di gunung Kawi tepatnya di Istana Mpu Dibyajaya. Sebab melihat adanya tanda-tanda bahwa dunia dipenuhi kejahatan,orang-orang tidak lagi mengenal kebenaran yang abadi sehingga ia berniat untuk mengasingkan diri untuk mencari kebenaran yang kekal. Suatu waktu ia tiba di hutan yang lebat melewati bukit kerikil, tiba-tiba hujan angin deras sekali anaknya bersendat-sendat menangis. Dia basah kuyup. Saat guntur, Siladri terkejut selanjutnya mendekati istrinya.
              Keesokan hari bila kembali menjelma, kaka supaya menjadi laki-laki, supaya bertemu berkeluarga, mendoakan, kamu menjadi laki-laki supaya bertemu berkeluarga, mendoakan. Sanggup melayani, kakak membayar hutang, kebaikan kamu sekarang.

Kemudian istrinya merasakan bahwa perkataan suaminya itu menyedihkan dan merasa iba terhadap anaknya masih kecil dan sudah menderita seperti itu, harus kehujanan dalam hutan malam pula.
Seperti itulah menjadi manusia, baik buruk ditemukan begini filsafahnya, konon Ida Hyang Iswara, membuat manusia dahulu, Bagus Wirya Sama Dewa, tidak ada sakit hati.
Hari sudah pagi burung-burung berkicau, seperti membangunkan, Siladri dan istri bersiap-siap lagi berjalan menuju ke timur menuju Gunung Kawi. Semua bunga sedang mekar, ramai tamulilingan, rasa gembira menyapanya dan terlihatlah istana yang megah, istana itu adalah istana Mpu Dibiyaja. Setibanya di depan istana, yang perempuan seketika ditahan istrinya sudah tak bernyawa. Siladri putus asa ia pun ingin menyusul istrinya.
Seperti sekarang jikalau kamu masih cinta, cari kakak ajak mati, tetapi jangan terlalu lama, anakmu diikutkan, mumpung bersama diajak menderita, supaya jangan pisah, walaupun menemukan sengsara.
Akhirnya Siladri harus merelakan kepergian istrinya memperjuangkan hidupnya untuk mencari kebenaran.
Kisah kehidupan dewasa I Dukuh Siladri yang dideskripsikan di atas memperlihatkan beberapa simbol-simbol dalam kehidupan yaitu :
Pertama, kepergian I Dukuh Siladri  mengembara di gunung Kawi menyimbolkan tentang “pilihan hidup”. Manusia pada dasarnya harus menetapkan sendiri jalan hidupnya dalam hal ini untuk mencari kebenaran. Melihat keadaan dunia yang sudah dipenuhi dengan kejahatan dan sudah tak ada kebenaran maka ia harus memilih jalan hidupnya apa pun yang terjadi demi tercapainya dalam mencari suatu kebenaran yang konon di gunung kawi itu ada seorang guru yang patut dijadikan guru olehnya.
Kedua, ungkapan-ungkapan si pencerita dalam menggambarkan hidup di dunia ini akan selalu mendapatkan hal-hal yang buruk, sakit hati, menderita dan serta mereka yang melambangkan cobaan hidup akibat perbuatan-perbuatan sebelumnya baik di kehidupan atau pada masa kecilnya.
Ketiga, ungkapan-ungkapan I Dukuh Siladri kepada istrinya melambangkan kesetiaan pada cintanya.

b.    Kedudukan dan Peran Tokoh
  Sebagai seorang ayah dan manusia, I Dukuh Siladri sebagai tokoh yang memperlihatkan peranan yang cukup besar yaitu merawat dan bertanggung jawab terhadap anak-anak dan keluarganya.
  Setelah I Dukuh Siladri mendapatkan kebenaran dan tentang kehidupan manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan antara satu saling bergantung tidak dapat berdiri sendiri I Dukuh Siladri mengabaikan dirinya melalui perlakuan atau tindakan yang berhubungan dengan peran sebagai ayah dan manusia yang dalam kebenaran.       Ayah memberitahumu, tingkah laku menjadi anak, jangan berani kepada leluhur, yang sudah dianggap guru, tiada yang tersebut guru. Guru rupakan guru wisesa, guru swadyaya selanjutnya. Yang empat memang benar, tua orang, tua dengan sastra, tua umur, tuang sang wiku, jangan kamu membantah kepada orang yang dikatakan tua, patut dimintai kebenaran, oleh karena beliau mengetahui lebih dahulu.
I Duh Siladri selalu mengajarkan anaknya untuk mendekatkan diri pada sang pencipta. Tidak pernah lalai mengingatkan, ia pun tak pernah lalai pula untuk melakukan hal itu agar anak-anaknya selalu ingat.
Setelah anaknya tumbuh dewasa, prilaku yang cantik, I Dukuh Siladri merasa anaknya sudah pantas untuk menikah. I Dukuh Siladri sudah menyiapkan calon suami untuk anaknya konon anak saudaranya sendiri.
Sudah menyatu pikirannya, I Dukuh Siladri lalu memanggil anaknya keduanya, anaknya datang menghadap, bersamaan duduk bersampingan, I Dukuh tersenyum berkata, anakku sayang berdua, seperti ayam terkurung, lama sudah binal bulunya sudah lebat.
              Sudah waktunya diadu!
Anaknya pun memahami keinginan ayahnya karena ayahnya sudah pernah pula menjelaskan bahwa mereka sudah ditunangkan sejak kecil. Anaknya pun menikah dan hidup bahagia.
Sebagai seorang anak dalam ajaran harus membayar hutang. Hutang kepada orang tuanya salah satunya dengan cara mengabenkan orang tuanya. Ini disebabkan orang tua menantu atau saudara I Dukuh Siladri sudah meninggal di desanya.
Begini, sebenarnya tingkah laku manusia menjadi anak, tak berhenti berbuat baik, kebaikan orang tuamu, sebab kebanyakan berhutang, kepada orang tua berdua, ayah dan ibu, dengan baik beliau menciptakan.
Nah, begitu berat orang memiliki anak, karena pantas seperti sekarang kamu berdua membayar hutang kepada leluhur sekarang, bersama pulang berdua, orang tua kamu diupacarai.
        Anak-anaknya pun mengikuti perkataan ayahnya dengan segala persiapan. Berangkatlah mereka. Dalam perjalanan mereka melewati lembah, gunung, dan hutan. Mereka ditemani binatang-binatang yang tinggal di hutan dekat istana. Binatang yang selalu dipelihara oleh Mpu Siladri dan anak-anaknya.
Dari uraian dan cuplikan cerita di atas, jelas bahwa rasa tanggung jawab dan pengabdian terhadap anggota keluarga dapat merupakan simbol terhadap sinar kejelasan. Rasa tanggung jawab dan pengabdian seseorang terhadap keluarganya harus diwujudkan dalam bentuk tindakan. Begitu pula tanggung jawab terhadap lingkungan.
Hubungan antara kedua anak itu terhadap binatang-binatang merupakan lambang atau simbol bahwa manusia, dengan hewan serta lingkungan saling membutuhkan.

Penutup
       Adapun simpulan uraian di atas yaitu :
1.    Cobaan-cobaan yang kita hadapi adalah disebabkan oleh perbuatan kita sendiri.
2.    Dalam hidup mampu menentukan pilihan hidup demi kebaikan.
3.    Kesediaan dalam berkeluarga sangat penting.
4.    Rasa tanggung jawab dan pengabdian harus diwujudkan dalam bentuk tindakan.




DAFTAR PUSTAKA


Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta:  Jala Sultra.

Karyawan, I Ketut. 1991. Geguritan I Dukuh Siladri. Jakarta: Depdikbud.

Mantra, Ida Bagus. Tanpa Tahun. Tata Susila Hindu Dharma. Jakarta: Pansada Hindu Dharma Pusat.

Santoso, Puji. 1993. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa.

Sub Proyek Bimbingan Pengolahan dan Dakwah Agama Hindu dan Budha, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Departemen Agama Republik Indonesia. Tanpa Tahun. Hari Raya/ Perahunan Bagi Umat Hindu. Jakarta.

Wahid, Sugra, M.S. 2004. Kapita Selekta Kritik Sastra. Makassar: CV. Berkah Utami.




Read On 0 komentar

KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR-UNSUR INTRINSIK CERPEN “PEREMPUAN PESISIR” KARYA ZAKIYAH M. HUSBA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 12 KENDARI

11.45
oleh : Sri Yulianti (A1D1 04 046)
ABSTRAK
Pengajaran satra mempunyai peranan penting dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran secara umum. Dalam pengajaran satra peserta didik mampu mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orasng lain serta mempunyai kemanpuan analitik dan imajinatif dalam dirinya untuk menanggapi, mengkritis dan merespon hal-hal yang terjadi disekitarnya. Dengan demikian tujuan pengajaran satra adalah agar siswa memiliki pengetahuan tentang sastranya, mampu mengapresiasikan sastra, bersikap positif terhadap nilai sastra, karena sastra cerminan kehidupan
Dalam kegiatan pembelajaran sastra siswa tidak hanya diarahlkan untuk memahami teori seperti mengenai ciri-ciri cerpen, unsur-unsur instrisik cerpen tetapi pembelajaran sastra ini diharapkan untuk bagaimana siswa mampu menemukan unsur-unsur instrisik yang terkandung dalam cerpen seperti tema, amanat, latar, alur, tokoh, penokohan sudut pandang dan gaya bahasa
Masalah yang akan dikemukakan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Kendari dalam memahami unsur- unsur intrisik cerpen perempuan pesisir karya zakiyah M. Husbah”
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Kendari dalam memahami unsur-unsur intrisik cerpen “perempuan pesisir” karya zakiyah M. Husbah.

Pendahuluan
Pengajaran sastra mempunyai peranan penting dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran satra secara umum.aspek-aspek yang dimaksud adalah aspek pendidikan,sosial,perasaan,sikap dan keagamaan.
Sunarti,dkk (2002:15) menjelaskan bahwa tujuan pengajaran sastra meliput dua hal,yaitu memperoleh pengalaman sastra dan memperoleh pengetahuan tentan sastra.Tujuan memperoleh pengalaman sastra dapat dicapai dengan cara mengalami langsung atau melihat langsung hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan sastra.sedangkan memperoleh pengetahuan tentang sastra dapat dicapai dengan cara menerangkan istilah-istilah satra,bentuk-bentuk satra,dan sejarah sastra. 
Sastra adalah sebagai alat untuk mengajar buku petunjuk, buku intrnksi atau pengajaran.Dalam Buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Pradotokusumo,2005 :7 ) menyebutkan bahwa sastra mengandung pengertian sebagai berikut:
1.Bahasa (kata-kata,gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari)
2.Karya sastra yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama,eplk, dan lirik.
3.Tulisan atau huruf.
Nursito (200 :1) mengungkapkan bahwa kata “kesusastraan” berasal dari kata “susastra” yang memperoleh konflik “ke-an” mengandung makna “tentang”atau “hal”.kata “susastra”terdiri atas kata dasar sastra yang berarti tulisan yang mendapat awalan kehormatan “su” yang berarti baik atau indah.Dengan demikian,secara etimologi kata “susastra” dapat berarti pembicaraan tentang berbagai tulisan yang indah bentuk dan isinya.
Cerpen singkatan dari cerita pendek, akan tetapi tidak semua gerita pendek disebut cerpen.Berdasarkan hasil bacaan penulis menyimpulkan bahwa cerpen adalah proses yang mengisahkan sepenggal kehidupan tokoh yang penuh pertikaian,peristiwa yang mengharukan atau menyenangkan dan mengandung kisah yang tidak mudah dilupakan,atau dengan kata lain,cerpen adalah cerita fiksi yang menggambarkan terjadinya nasib sang tokoh.
Unsur-Unsur yang membangun cerpen.
Unsur yang membangun cerpen adalah tema,amanat,alur,latar,tokoh,penokohan,sudut pandang dan gaya bahasa.Bagian-bagian tersebut saling berkaitan karena merupakan satu rankaian struktur yang tidak bisa dipisah-pisahkan.
Berikut ini akan dibahas satu persatu unsur-unsur yang membangun cerpen.

1.    Tema
Tema merupakan suatu gagasan sentral, sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya fiksi. Menurut Zulhfanur (dalam Wahid, 2004:74) bahwa tema adalah ide yang mendasari karya sastra. Tema merupakan suatu dimensional yang amat penting dari suatu cerita.
Hendi (1991:11) menjelaskan bahwa tema adalah pokok pengisahan dalam sebuah cerita. Cerita atau karya sastra yang bermutu tidak lain karya sastra yang bermutu baik, yaitu yang mampu mengguna pandangan dan perilaku yang negatif dan positif.

2.    Amanat
Barbicara tentang amanat cerita berarti membaca diperhadapkan dengan  pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca lewat cerita yang ditampilkan.Amanat cerita biasanya berisi ajaran moral dan nilai-nilai kemanusiaan.

3.    Alur
Dalam buku praktis bahasa Indonesia jilid 1 (2003:138) menjelaskan bahwa alur adalah jalinan peristiwa yang memperlihatkan kepaduan (koherensi) tertentu yang dfiwujudkan, antara lain oleh hubungan sebab-akibat tokoh Wira.
Menurut Luken (Nurgiantoro, 2005:68), menjelaskan bahwa alur adalah merupakan urutan kejadian yang mem,perlihatkan kejadian tingkah laku tokoh dalam aksinya.

4.    Latar
Unsur fiksi yang menunjukan kepada kita di mana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut latar sebuah cerita.
Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Pada dasarnya setiap karya sastra yang membentuk ceruta selalu memiliki latar.

5.    Tokoh
Tokoh merupakan unsur cerita yang penting, sebab tidak ada cerita tanpa kehadiran tokoh. Tokoh-tokoh dalam cerita bersifat unik, yang selalu berbeda dengan tokoh yang lainnya. Tokoh inilah yang mengalami peristiwa dalam cerita.
Tokoh dalam cerita ada yang lazim disebut tokoh utama (protogonis)  dan tokoh pembantu (antagonis), dalam ,menentukan tokoh utama ada 3 cara yaitu :
1.    Tokoh yang paling banyak terlihat dalam cerita
2.    tokoh yang paling banyak berhubungan dengan tokh lain, dan
3.    tokoh yang banyak memerlukan waktu pencerita.
6.    Penokohan
Nurgiantoro (2005:74) mengemukakan bahwa istilah tokoh dapat merujuk pada tokoh dan perwatakan tokoh. Tokoh adalah pelaku cerita lewat berbagai aksi yang dilakukan dan peristiwa serta aksi tokoh lain yang dilimpahkan kepadanya.
Uverty (dalam Tarigan, 1984:141) mengemukakan bahwa penokohan atau karakteristik adalah proses yang dipergunakan oleh seorang pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh fiksinys. Tokoh fiksi harus dilihat sebagai yang berada pada suatu masa dan tempat tertentu dan haruslah pula diberi motif – motif yang masuk akal bagi segala sesuatu yang dilakukannya. 
7.    Sudut Pandang
Sudut pandang pencerita adalah posisi pencerita dalam membawakan ceritanya, boleh jadi dia tokoh dalam cerita (Pencerita akuan).
Menurut Wahid (2004 : 83), sudu pandang adalah tempat pencerita dalam hubungannya dengan cerita, dari sudut mana pencerita menyampaikan kisahnya.
Menurut Sudjiman (1988:76), ada tiga sudut pandang pencerita dalam kesusastraan, yaitu :
1.    Sudut pandang fisik, yaitu posisi di dalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang di dalam pendekatan materi cerita ;
2.    Sudut pandang mental, yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah di dalam cerita ;
3.    Sudut pandang pribadi yaitu hubungan yang dipilih pengarang di dalam membawakan cerita, sebagai orang pertama, orang kedua dan orang ketiga.
8.    Gaya Bahasa
Gaya adalah cara khas dalam mengungkapkan isi jiwa seseorang. Hal ini tercermin dalam cara pengarang menyusun dan memilih kata – kata, memilih tema, meninjau persoalan yang ditulisnya.
Tarigan (1984:165), mengemukakan bahwa dalam karya sastra masih ada gaya bahasa lain yang sering kita jumpai. Gaya bahasa tersebut adalah:
a.    Gaya bahasa ironi, yakni sejenis gaya bahasa yang mengemukakan suatu hal dengan makna yang berlainan, merupakan suatu kualitas dalam setiap pernyataan atau situasi yang muncul dari kenyataan bahwa sesuatu wajar, yang diharapkan tidak disebut atau dilaksanakan, tetapi diganti dengan kebalikannya.
b.    Paradoks yakni gaya bahasa pertentangan. Misalnya: Neraka itu adalah sorga baginya.
c.    Simbolisme yakni penggunaan lambang – lambang tertentu yang memiliki makna yang mengisyaratkan sesuatu untuk mencapai pesan yang ingin disampaikan.


Daftar Pustaka

Hendi, Zaidan. 1991. Pelajaran Sastra (Untuk SMA Kelas II). Jakarta: Rineka Cipta
Nurgiantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak (Pengantar pemahaman Dunia Anak). Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Sunarti, Iing. 2002. Cerita Rakyat Lampung “wakhahan” (Analisa Struktur, Fungsi, Dan Manfaatnya Bagi Pengajaran Sastra). Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Tarigan, Hendry Guntur. 1984. Menulis Sebagai suatu keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Wahid, Sugira. 2004. Kapita Selekta Kritik Sastra. Makassar: Jurusan Bahasan dan Sastra Indonesia dan Daerah.




Read On 0 komentar

EKSISTENSI GURU DAN FASILITAS PENGAJARAN APRESIASI SASTRA DI KALANGAN SISWA DALAM PUISI “DARI SEORANG GURU KEPEDA MURID-MURIDNYA”, “CATATAN HARIAN SEORANG GURU”, DAN“PELAJARAN TATABAHASA DAN MENGARANG.”

11.40
Oleh: Mashun


Abstrak
    Pemahaman puisi nampaknya diperlukan pemahaman lebih serius daripada pemahaman genre karya sastra lain seperti novel atau cerpen. Selain puisi memiliki sifat yang khas, para penyair juga memiliki hak untuk memberi makna, membuat para penikmat puisi bekerja ekstra keras untuk memahami maksud penyair dalam paparan puisi yang diciptakannya. Untuk memahami puisi “Dari Seorang Guru kepada Murid-Muridnya, Catatan Harian Seorang Guru, dan Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang.” Pendekatan dalam pengkajian puisi tersebut digunakan pendekatan Gestalt.
    Tulisan ini memuat gambaran eksistensi guru dan fasilitas pengajaran sastra dikalangan siswa, khususnya ambaran dalam puisi “Dario Seorang Guru Kepada Murid-Muridnya, Catatan Harian Seorang Guru, dan Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang”

1.    Pendahuluan
Masalah apresiasi merupakan faktor dasar yang harus dimiliki oleh apresian. Untuk dapat mengapresiasikan suatu karya sastra diperlukan pengetahuan lemgkap tentang apresiasi itu sendiri. Walaupun secara insani manusia telah dibekali dasr-dasar alamiah, tetapi harus pula ditunjang dengan belajar. Apresiasi yang dimiliki seseorang itu sendiri tumbuh dan merupakan proses dan kontinyu, terus-menerus. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dalam kehidupan. Di sisi lain kekuatan imajinasi dan rasa simpati seseorang terhadap hasil seni, termasuk di dalamnya sastra, sangat dominan. Oleh karena itu sejak dini kepada siswa hendaknya dikenalkan karya-karya sastra. Permasalahan ini banyak dikemukakan oleh guru melalui media massa. Ada yang mengatakan bahwa “Pengajaran Bahasa dan Apresiasi Sastra di sekolah-sekolah belum berperan sebagaimana mestinya dan masih memprihatinkan. Pengajaran sastra di sekolah-sekolah masih menghadapi berbagai masalah.hal ini karena banyaknya keluhan, baik tentang umlah dan mutu pengajaran, jumlah dan mutu buku-buku yang dipergunakan, maupun tentang hasil belajar, yaitu tingkat minat , kemampuan menikmati dan menghargai karya-karya sastra.”
Berkaitan dengan kurang berhasilnya pengajaran apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia, banyak juga para ahli  yang mengemukakan bahwa “pengajaran Apresiasi Sastra di sekolah, ada sekian kemungkinan (kesan) yang kita saksikan, dan perlu segera diambil jalan terobosannya. Dua diantaranya adlah eksistensi guru dan fasilitas yang belum memadai (Ashar, 1997:25).
Untuk mengkaji ketiga puisi dalam makalah ini digunakan pendekatan Gestalt. Pendekatan Gestalt dalam pembelajaran pemahaman makna puisi. Hakekat pemahaman makna puisi dengan pendekatan Gestalt adalah melakukan pertemuan antara apresiator atau orang yang akan memahami makna dengan puisi sehingga ,munculah nilai Gestalt yang diakibatkan oleh pertemuan itu, yaitu: si apresiator yang mempunyai pengalaman majemuk yang ingin memahami makna puisi, dan karya puisi sebagai refleksi kehidupan penyairnya yang mempunyai pengalaman majemuk pula. Dengan Gestalt, puisi dihubungkan dengan latar belakang kejiwaan pengarang, latar belakang penciptaan puisi, proses kreatif, konsep estetik, latar sosial budaya, dan landasan filsafat penyair. Pendekatan Gestalt dipakai untuk menandakan karya sastra (pyuisi) sebagai satu kesatuan yang utuh. Karya puisi akan dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipilah-pilah, karena yang datang kepada pembacanya adalah puisi yang utuh pula, dan Gestalt adalah keseluruhan kesan-kesan yang timbul. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan untuk menangkap kesan tersebut adalah dengan mempelajari puisi secara keseluruhan, pendekatan ini mencoba menghubungkan puisi dengan kejiwaan penyairtnya. Dengan kata lain, pendekatan gestalt berusaha mengaitkan keseluruhan puisi dan mencari hubungannya dengan psikologi penyairnya.

2.    Pembahasan
Dalam pengkajian puisi “Dari Seorang Guru Kepada Murid-muridnya, Karya Hartojo Andangdjaja”,”Catatan Harian Seorang Guru, Karya Tri Astoto Kodarie”, dan “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang, Karya Taufiq Ismail, ditemukan eksistensi dan fasilitas pengajaran apresiasi sastra. Pertama-tama eksistensi atau keberadaan guru dalam “Dari seorang guru kepada murid-muriidnya” digambarkan bahwa seorang guru hadir dengan kesederhanaanya atau kekuranganya. Apakah yang kupunnya anak-anakku/selain  buku dan sedikit ilmu/sumber pengabdianku kepadamu/kalau hari minggu engkau dataang ke rumahkuaku/aku takutanak-anakku/kursi-kursi tua yang di sana/dsan meja tulis sederhana/dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya// ini berarti bahwa dari segi imbalan materi kepada seorang guru faktor ekonomis sangat menonjol. Faktor ekonomis yang sangat kuat dalam masyarakat modern turut menggeser konsep dan keberadaan guru. Dalam konteks ini, tidak aneh kalau dalam masyarakat modern sering terjadi pemopgokan guru untuk menuntut kenaikan gaji. Hal ini bisa berdampak buruk terhadap dunia pendidikan dan murid. Dalm “catatan harian seorang guru: anak-anak bersiul menyanyikan lagu/kepahlawanan tentang seorang guru/. Sering kita dengar bahwa guru adalah pahlawan tanpa jasa. /kemudian suaranya hanyut bersama kotoran/diselokan/ karena faktor ekonomis tadi maka sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa pun lenyap. Itu karena hanyalah simbol yang berlaku pada masa lalu. Dalam kehidupan modern desakkan ekonomi menuntut seorang guru untuk mencari sambilan di luar profesinya, sehingga kita tak perlu bertanya-tanya mengapa kadang-kadang guru menelantarkan siswanya. Dan itu juga dapat berdampak buruk pada pendidikan sekarang ini, khususnya pengajaran apresiasi sastra. Dalam “pelajaran tatabahasa dan mengarang: kalian anemi referensi dan melarat bahan perbandingan/ itu karena malas baca buku apalagi karya sastra// wahai pak guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca/ bila kami tak sanggup mengembangkan kosa kata/ selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja/ mana ada dididik mengembangkan logika/ mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda// Guru dituntut untuk dapat menyampaikan pengajaran apresiasi bahasa dan sastra, tetapi karena kekurangmampuan menyampaikan pengetahuanya kepada siswa sehingga siswa tak dapat mengembangkan kemampuannya dengan efektif, sebab ketatnya formalitas dalam dunia pendidikan yang mengakibatkan juga interksi yang terjadi kian kering dari nilai-nilai manusiawi. /dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra/ pak guru tahu lama sekali mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, rabun / puisi// khususnya apresiasi sastra, siswa tidak pernah diperkenalkan dengan puisi, cerpen, atau drama. Itu juga adalah kelemahan guru yang tidak lebih dari fungsionaris pendidikan yang bertugas mengajar atas dasar kualifikasi keilmuan dan akademis tertentu, tanpa memperhatikan faktor-faktor lain seperti kearifan dan kebijaksanaan yang merupakan sikap dan tingkah laku moral. Siswa tidak dilengkapi dengan fasilitas yang  mendukung  karenaitu tiadak pernah ada perkembangan pada diri siswa.               
Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa eksistensi atau keberadaan guru dan fasilitas pengajaran apresiasi sastra sangat mempengaruhi kemampuan dan minat siswa dalam mengapresiasikan karya sastra. Eksistensi guru yang dimaksud disini adalah kemampuan guru mengajarkan karya sastra sebagai apresiator. Dari hasil pengkajian terhadap puisi”dari seorang guru kepada murid-muridnya karya Hartodjo Andangdjaja,” catatan harian seorang guru”,karya Tri Astoto Kodarie, dan “pelajaran tata bahasa dan mengarang”, karya Taufik Ismail menggambarkan bahwa eksistensi guru dan fasilitas pengajaran apresiasi sastra masih kurang.



DAFTAR PUSTAKA

Ashar, Evis Amalia. 1997, 3 Januari. Apresiasi Sastra Di Kalangan Siswa. Horison        Majalah Sastra, hlm 25
Bacaan Sastra Sangat Minim. 2008, 14 oktober. Kompas, hlm.7.
Djodjosuroto, Kinayati. 2006. Pengajaran Puisi Analisis dan Pemahaman. Bandung: Nuansa.
Kodarie,Tri Astoto. 2007. Hujan Meminang Badai. Yogyakarta : AKAR Indonesia.






Read On 0 komentar

CITRA PENDIDIKAN PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA MODEREN

11.34
Oleh : La Ode Muh. Hamzah


1.    DASAR PEMIKIRAN

Sastra (kesusastraan) suatu bangsa dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan, begitu juga halnya kesusastraan Indonesia. Berkembangnya kesusastraan suatu bangsa dapat dilihat dari hasil yang telah ditulis oleh para penulis karya sastra tersebut. Karya sastra itu dapat berupa puisi, prosa, maupun naskah drama. Dalam hal perkembangan kesastraan Indonesia, maka peran sejarah sastra tidak dapat dilupakan. Karena melihat perkembangan kesastraan, maka kita harus membuka sejarah, dalam hal ini sejarah sastra.
Sejarah sastra merupakan sebuah proses resepsi dan produksi estetik yang terjadi dalam pelaksanaan teks-teks sastra yang dilakukan terus menerus oleh pembaca, kritikus, dan penulis dalam kreatifitas sastra (Jauss dalam Pradopo, 2005: 9). Di dalam kesusastraan Indonesia, karya-karya sastra dari sejak Balai Pustaka sampai sekarang selalu mendapat tanggapan pembaca. Tanggapan mereka selalu berubah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cakrawala harapan yang ditentukan oleh konsep-konsep sastra setiap periode. Di antara tanggapan yang muncul dari pembaca adalah dari angkatan Balai Pustaka sampai Angkatan 66, penulis karya sastra sangat didominasi oleh kaum lelaki. Sementara karya sastra yang ditulis oleh kaum perempuan, sangat minim. Akan tetapi pada zaman sekarang, karya sastra yang ditulis oleh kaum perempuan sangat menunjukkan peningkatan. Meningkatnya karya sastra yang ditulis oleh kaum perempuan, maka citra pendidikan kaum perempuan dewasa tidak boleh dikesampingkan. Dalam hal ini kaum perempuan ikut dalam serta mewujudkan perkembangan sastra indonesia moderen.
   Menulis sebuah karya sastra baik puisi, cerpen atau naskah drama,  merupakan hasil interpretasi yang dialami oleh penulis. Baik yang dialami sendiri, maupun dialami oleh orang lain. Dengan dasar pemikiran di atas, maka sebuah karya sastra tidak terlepas dari kehidupan pengarang. Sebagai contoh novel Siti Nurbaya yang ditulis oleh Marah Rusli adalah hasil interpretasi penulis dari kejadian di daerahnya. Dalam hal ini penulis melihat fenomena yang terjadi di daerahnya yaitu adanya kawin paksa. Menulis sebuah karya sastra pula membutuhkan pemikiran yang intelektual. Dalam hal ini menggunakan logika, dengaan menggunakan logika atau masuk akal, maka karya sastra tersebut dapat diterima di masyarakat (pembaca).
Melihat perkembangan kesastraan Indonesia dari zaman Balai Pustaka sampai Angakatan 66 didominasi oleh kaum lelaki seperti yang telah disebutka di atas. Bukan berarti karya sastra yang dihasilkan kaum perempuan tidak ada. Dapat dikatakan hal ini disebabkan kurang berwawasannya kaum perempuan tentang sastra. Tetapi di era Orde Baru dan era Orde Paling Baru, karya sastra yang dihasilkan oleh kaum perempuan menunjukkan peningkatan. Dengan meningkatnya karya sastra yang ditulis oleh kaum perempuan, maka dapat dikatakan meningkatnya pula daya sang kaum perempuan. Dalam hal ini dunia kesastraan. Meningkatnya sebuah karya sastra suatu bangsa, maka meningkat pula daya pikir bangsa tersebut.

2.    LANDASAN TEORI

 2.1    Pengertian Sastra

sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1988: 8). Dari dasar pemikiran tersebut, dapat dikatakan bahwa sastra itu berasal dari manusia tentang manusia, tentang alam, dengan bahasa sebagai medianya.
Sastra juga adalah proses kreatif. Oleh sebab itu bila kita berbicara tentang sastra, mau tidak mau kita harus berbicara seni, karena suatu karya sastra tidak akan berdaya menyandang predikat tersebut manakala ia tidak memiliki unsur seni. Bila kita berbicara tentang seni dan karya seni terpaksa harus berbicara tentang manusia dan alam, karena seni itu lahir akibat adanya perpaduan harmonis antara manusia dan alam (Semi, 1988: 9).
Sastra ialah karya tulis yang jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Ada tiga aspek yang harus ada dalam sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada sastra yang mengorbvankan salahsatu aspek ini, misalnya karena alasan komersial, maka sastra itu kurang baik (Sugono, 2007: 159).

 2.2    Kritik Feminis

pendekatan kritik feminis sesungguhnya berasal dari gerakan feminisme di dunia Barat yang berakar dari perjuangan untuk hak perempuan yang dimulai pada akhir abad XVIII, khususnya dengan terbitnya tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of the Rigts of Women (Pembenaran Terhadap Hak-hak Perempuan, 1792). Kritik feminis ini mempermasalahkan ‘ideologi’ yang berkepanjangan yang didomonasi dan berpusat pada (jenis kelamin) laki-laki ditambah dengan semacam persekongkolan laki-laki dengan sikap patriakalnya serta penafsiran laki-laki dalam sastra dan kritik sastra. Kritik feminis ini menyerang catatan-catatan kaum laki-laki tentang nilai dalam sastra dengan cara menawarkan kritik terhadap pengarang laki-laki dan peran laki-laki dalam karya sastra, selain itu mengutamakan pengarang kaum wanita

 2.3    Periodisasi Sastra Indonesia

pada dasarnya para tokoh sastra Indonesia yang membuat periodisasi di antaranya H.B. Jasin,Boejoeng Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, dan Ajip Rosidi; pada umumnya periodisisi mereka menunjukkan persamaan pada garis besarnya, namun ada perbedaan kecil-kecilan juga, yaitu mengenai batas-batas waktu setiap periode dan penekanan ciri-cirinya (Pradopo, 2005: 14).
Periode Balai Pustaka (1920—1944)
Lahirnya angkatan Balai Pustaka sekitar tahun 1920 dan melemahnya kekuatan dan lenyapnya di sekitar tahun 1940.  Waktu terintegrasinya kekuatan (dan ciri-ciri) sastra Balai Pustaka antara 1925—1935. Di antara tahun-tahun itu terbit sebagian besar karya-karya roman Bali Pustaka yang kuat. Di antaranya: Salah Pilih (1928), Hulu Balang Raja (1934), Katak Hendak Jadi Lembu (1935), Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Sengsara Memmbawa Nikmat (1932), Kehilangan Mestika (1935), Ni Rawit (1935), dan masih ada yang lain (Pradopo, 2005: 19). Yang termasuk tokoh-tokoh dalam Angkatan Balai Pustaka Merari Siregar, Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, dan masih banyak yang lain.
Periode Pujangga Baru (1930—1945)
Sesungguhnya para sastrawan pujangga baru telah menulis sajak-sajak di sekitar 1920, namun baru sekitar 1930 menunjukkan ciri-ciri periode atau angkatan yang kuat, seperti tampak dalam karya-karya Indonesia Tumpah Darahku (1929), Madah kelana (1931), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932). Sekitar tahun 1930 gagasan Pujangga Baru mulai menyebar luas hingga akhirnya terintegrasi dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada bulan Juli 1933 (Pradopo, 2005: 19). Tokoh-tokoh yang termasuk angkatan Pujangga Baru Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armyn Pane, Sanusi Pane, Y.E. Tatengkeng, dan masih banyak yang lain. 
Periode Angkatan 45 (1940—1955)
Di sekitar tahun 1940 penulis Angkatan 45 mulai menulis karya-karya sastranya. Tanggal tertua yang terdapat dalam abtologi H.B. Jasin Gema Tanah Air adalah 28 Nopember 1942, tanggal dimuatnya sajak “Bunglon” karya Ashar. Sajak Chairil Anwar yang tertua bertanggal Oktober 1942 sajak “Nisan” dan “Kehidupan” Desember 1942. Periode 1940—1955 ini diisi oleh karya-karya sastra para sastrawan yang menulis pada permulaan tahun 40-an meskipun ada juga satu dua pengarang yang telah menulis pada tahun 30-an. Masa produktif angkatan ini antara 1943—1953, kurang lebih dalam masa sepuluh tahun. Selama waktu sepuluh tahun itu dapat dikatakan karya-karya sastra mereka belum dibukukan, melainkan terbit dalam majalah-majalah. Baru sesudah tahun 1950 karya mereka dapat terbit sebagai buku. Bahkan, karya Chairil Anwar, sastrawan yang dianggap sebagai pelopor Angkatan 45, baru dapat terbit sebagai buku sesudah ia meninggal, yaitu Debu Campur Debu (1949) dan Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Terputus (1951). Sebagian besar karya sastra Angkatan 45 dan sastrawannya dapat terlihat dalam dua buku antologi H.B. Jasin, yaitu Kesusastaraan Indonesia di Masa Jepang (1948) dan Gema Tanah Air (1948)  (Pradopo, 2005: 20).
   Periode Angkatan 50 (1950—1970)
Dalam peride ini karya sastra adalah merupakan tulisan para sastrawan yang pada umumnya menulis pada awal tahun 50-an dan 60-an. Antara 1950—55 para sastrawan Angkatan 45 masih menerbitkan karya-karyanya. Sementara sastrawan-sastrawan baru mulai menulis. Angkatan sastra 50 ini dapat dikatakan terintegrasi antara 1955—1965.
Corak sastra periode 1950—1970 ini agak beragam karena adanya para sastrawan yang mendukung ideologi partai dan sastrawan bebas. Pada kurun waktu ini sastra Indonesia dipengaruhi oleh situasi sosial, politk, dan ekonomi. Pada kurun wakti ini ada peristiwa penting yaitu pemberontakan G 30S/PKI pada tahun 1965 yang berakibat disingkirkannya para sastrawan Lekra dan karya-karyanya yang berideologi Komunis. Namun, ciri-ciri sastra secara intrinsik belum berubah sampai tahun 1970 (Pradopo, 2005: 20—21)
Periode Angkatan 70 (1970—1984)
Para sastrawan yang karyanya memberi corak periode ini pada umumnya sudah menulis pada tahun 60-an, lebih-lebih sesudah 1965, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, dan Kuntowijoyo, telah menulis sejak awal tahun 60-an. Akan tetapi, karyanya yang penting, karya garda depannya, baru terbit sekitar tahun 1970. Masa integrasi Angkatan 70 ini adalah selama dekade 70-an, dengan karya-karya sastra Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering karya Iwan Simatupang, Godlop, karya Danarto, cerpen-cerpen Budi Darma yang belum dibukukan, Khotbah Di Atas Bukit novel Kunto Wijoyo, novel-novel Putu Wijaya Telegram dan Stasiun serta dramanya Aduh, drama-drama Arifin C. Noer Kapai-kapi, dan sebagainya. Dalam bidang puisi, di antara yang menonjol adalah Sutardji Calzoum Bachri dengan O Amuk Kapak, karya Sapardi Joko Damono Akuarium, Mata Pisau dan Perahu Kertas,  Gonawan Mohamad Prelude, dan sajak-sajak Abdul Hadi W.M. dan Darmanto Jt (Pradopo, 2005: 21).

 2.4    Sastra dan Pendidikan

bahasa merupakan tanda simbol yang arbitrer. Dalam karya sastra, media yang digunakan adalah bahasa. Dalam hal ini sastra tidak terlepas dari bahasa. Bahasa Indonesia terlalu banyak digunakan sebagai alat untuk memberikan intruksi dan perintah dan kurang sebagai alat untuk menganalisa. Ini juga memperlambat pertumbuhan bahasa Indonesia ke arah kematangan intelektual. Betapapun berhasilnya kita membakukan bahasa Indonesia, tetapi bila guna utama bahasa itu bukan untuk dipakai sebagai alat berpikir, maka bahasa nasional kita itu akan tetap memperlihatkan kelemahan-kelemahan. Ini tidak berarti bahwa pembakuan itu tidak penting. Pembakuan dalam berbagai aspek bahasa perlu dilakukan.
Seseorang yang ingin memahai “kesiapaan” sastrawan tentu perlu membaca karyanya. Hal itu dapat dilakukan jika sastrawan itu mampu mengutarakan pikiran dan perasaannya dengan baik dan jelas. Kejelasan pengungkapan Khasanah batin sastrawan kedalam karyanya itu tentu bergantung pada kepiawaiannya memberdayakan bahasa sebagai medianya (Sugono, 2003: 114). Betapapun hebatnya gejolak imajinasi atau ide sastrawan, ia tidak akan mampu menuangkannya sama persis dengan apa yang dirasakannya. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh minimnya penguasaan bahasa sastrawan dan/atau keterbatasan bahasa itu sendiri sebagai sarana. Selain itu, apa yang terungkap dalam karya itu bukanlah semata-mata hasil pengamatan sastrawan, tetapi apa juga yang dirasakan dan ditafsirkannya tentang objek yang dihadapinya. Karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa seni merupakan tiruan alam tidak sepenuhnya benar (Sugono, 2003: 114).
Seperti halnya hubungan sastra dengan agama sastra juga tidak terlepas dari pendidikan yang di miliki oleh penulis. Ambilah perbandingan jika pendidikan penulis karya tersebut minim, maka hasil tulisan yang ditulisnya pun kurang memadai. Sebaliknya jika pendidikan yang dimiliki penulis tinggi, maka maka tulisan yang dihasilkan barangkali memuaskan, karena karya sastra merupakan hasil interpretasi apa yang telah dirasakan oleh penulis. Denagan pendidikan yang ia miliki, maka seorang penulis mampu mengolah hasil interpretasinya itu kedalam bentuk tulisan baik itu puisi, prosa maupun drama.

3.    Penutup

Melihat uraian periodisasi sastra di atas, terlihat jelas bahwa penulis yang mendominasi setiap angkatannya adalah kaum lelaki, sedangkan kaum perempuan tidak ada. Hal ini dapat diakibatkan oleh kurangnya interpretasi kaum perempuan dalam menggunakan bahasa sebagai media sastra. Indikasi lain yang muncul kurangnya penulis perempuan yang hadir dalam periodisasi sastra tersebut adalah tidak adanya ruang bagi kaum perempuan untuk mengapresiasi diri lewat tulisannya. Oleh karena itu, perlu di adakannya sebuah penelitian tentang citra pendidikan perempuan dalam perkembangan sastra Indonesia moderen.


Daftar Pustaka

Anwar, Khaidir. 1995. Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah bahasa. Yokyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Pradopo, Racmat Djoko. 2005. Beberapa Teori Sastra,Metode Kritik,dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Semi, Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Sugono, Dendi. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.




Read On 0 komentar

PENINGKATAN APRESIASI SISWA TERHADAP SASTRA MELALUI PENYERBALUASAN KARYA SASTRA

11.27
oleh: Achul Fauzy

ABSTRAK

Sastra bukan lagi hal yang asing bagi semua siswa karena sastra selalu ada dalam pembelajaran sekolah, untuk itu upaya peningkatan apresiasi sastra perlu dilaksanakan/diadakan agar kita tetap bisa menikmati sastra. Saat ini persoalan tentang kedudukan sastra perlu diadakan yaitu tentang kedudukan sastra dalam siswa mempunyai pandangan bahwa sekarang apresiasi siswa kita terhadap sastra masih relatif rendah, karena itu perlu diadakan peningkatan melalui program yang amat kongkrit, yang menyebarluaskan karya sastra.
Meskipun ada beberapa kemajuan di bidang apresiasi sastra masyarakat, yang antara lain ditandai dengan maraknya penerbitan buku-buku sastra belakangan ini, kemajuan itu bagaimanapun tidak sebanding, bahkan jauh dari apa yang kita harapkan.

PENDAHULUAN

Karya sastra adalah pengungkapan hidup dan kehidupan yang dipadu dengan  daya imajinasi dan kreasi seseorang. (Sumarni) oleh karena itu karya sastra selalu ada dalam kehidupan masyarakat. Sastra sendiri adalah karya seni, karena itu dia mempunyai sifat yang sama dengan karya seni yang lain seperti seni suara, seni pahat dan lain-lain. Tujuannya pun sama yaitu untuk membantu manusia menyingkapkan rahasia keadaannya.
Sastra bukan hal lagi yang baru bagi siswa maupun siswa, karena pengajaran sastra selalu ada dalam pembelajaran. Akan tetapi sastra yang mereka kenal hanya sebatas tahu apa itu sastra, tanpa mengetahui apa sebenarnya itu sastra, apa yang dapat diberikan oleh sastra, serta apa manfaat dari sastra itu sendiri. Bagi siswa/siswa yang mempunyai pengetahuan lebih tinggi pun hanya sekedar tahu atau kenal apa itu sastra, tanpa melihat sumbangsih apa yang dapat diberikan sastra dalam kehidupan sehari-hari, terlebih lagi bagi mereka yang kurang paham akan sastra, mereka tidak akan tahu apa itu sastra.
Meskipun ada beberapa kemajuan di bidang apresiasi sastra, yang antara lain ditandai dengan maraknya penerbitan buku-buku sastra belakangan ini, kemajuan itu bagaimanapun tidak sebanding, bahkan jauh dari yang diharapkan. Dengan adanya buku-buku sastra tersebut juga tidak terlepas dari segala persoalan. Karya sastra itu disodorkan kepada masyarakat/siswa-siswi/mahasiswa maka mereka sebagai publik pembaca pun mempunyai hak penuh untuk memberikan komentar. Bagi siswa yang awam/pembaca awam mereka hanya dapat menghargai karya sastra dengan apresiasi yang sederhana. Akan tetapi bagi pembaca terdidik, selain dapat menghargai juga bisa menilai karya sastra. Berdasarkan persoalan tersebut, dapat dikatakan bahwa apresiasi siswa terhadap sastra masih relatif rendah, maka perlu diadakan upaya untuk dapat bisa meningkatkan apresiasi siswa terhadap sastra ke arah yang lebih baik.

PEMBAHASAN
Keterlibatan sastra dalam kehidupan kongkrit sesungguhnya amat tergantung pada cara siswa kita memaknai karya sastra dan mencari relevansinya dengan kehidupan aktual kita. Namun ini jelas tidak mudah, karena kemauan dan kemampuan siswa kita memaknai karya sastra dan mencari relevansinya dengan kehidupan aktual kita amat tergantung pada daya apresiasi siswa kita terhadap karya sastra itu sendiri. Dari persoalan tersebut juga menjadikan salah satu alasan mengapa apresiasi siswa kita terhadap sastra masih relatif rendah.
Apresiasi siswa kita terhadap sastra relatif rendah, maka mereka tak akan menemukan fungsi-fungsi sastra dalam pengertiannya yang secara sosial amat berarti. Sebaliknya, karena mereka cenderung menjauhi atau menjatuhkan sastra dalam kehidupan mereka sehari-hari dalam konteks inilah sastra nyaris tak pernah terlihat dalam isu-isu penting pada tatanan sosial. Sastra seakan di isolasi sebagai persoalan siswa sastra belaka.
Rendahnya apresiasi sastra siswa kita di satu pihak dan rendahnya fungsi sastra di pihak lain bersumber dari banyak hal. Untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap sastra selain adanya penerbitan buku-buku, sebaiknya para sastrawan atau orang yang ahli dalam sastra dapat terlibat langsung dalam kehidupan kongkrit dan diberikan penyuluhan tentang sastra, serta dapat menjelaskan apa yang dapat diberikan oleh sastra dalam kehidupan kita semua khususnya bagi para siswa. Selain itu harus segera dikatakan bahwa keterlibatan sastra dalam kehidupan kongkrit sesungguhnya amat tergantung pada cara siswa kita memahami karya sastra.
Selain pengadaan buku-buku sastra dan terlibatnya para sastrawan, pengajaran sastra di sekolah kita inilah tempat pertama secara formal seseorang diperkenalkan pada sastra. Dan sebisa mungkin kepadanya ditanamkan fungsi sastra dalam batas yang amat minim sekalipun. Demikianlah kepada anak-anak diperkenalkan beberapa sajak Chairil Anwar, misalnya, seraya diperkenalkan pula hubungan sajak-sajak Chairil Anwar dengan perjuangan kemerdekaan.
Kiranya sulit dibantah bahwa pengajaran sastra di sekolah mengandung persoalan dan kelemahan yang amat serius, baik dari segi metodologi, maupun sarana pendukungnya. Di sekolah-sekolah kita sastra diajarkan lebih sebagai teori, istilah-istilah teknis yang relatif rumit, dan banyak hal sebagai hafalan. Kepada siswa-siswa SMP, misalnya diajarkan bentuk-bentuk puisi lama, mantra, syair, pantun, talibun, gurindam, dan lain-lain sebagai istilah-istilah teknis yang mesti hafal. Kepada siswa-siswa SMA diajarkan angkatan-angkatan dalam sastra. Indonesia berikut sejumlah tokohnya yang mesti mereka hafal pula. Dengan itu siswa-siswa kita belajar sastra tanpa harus membaca sastra itu sendiri, dan sedemikian rupa melakukan lompotan, mempelajari apa yang sebenarnya merupakan konsumsi para sarjana sastra. Dengan demikian, siswa-siswa kita mengenal sastra tanpa mengalaminya.
Apresiasi siswa terhadap sastra tentu saja harus di dorong agar segera bergerak dan meningkat ke apresiasi karya sastra bagaimanapun ditulis pertama-tama untuk dibaca dengan segala tuntutan dan konsekuensi logisnya. Potensi ke arah sana, sebagaimana diuraikan di muka, jelas ada dan berpenghargaan, namun tetap diperlukan berbagai stimulus untuk mengaktualkannya. Menyebarluaskan buku-buku sastra melalui program yang terencana dalam skala besar-besaran merupakan keharusan yang mendesak. Perpustakaan dengan jumlah buku yang memadai mesti berdiri di setiap kota. Memang siswa kita sebenarnya memiliki daya dan mekanisme sendiri untuk mendistribusikan buku-buku sastra ke berbagai daerah, sebagaimana dilakukan oleh beberapa penerbit untuk menembus pasar-pasar alternatif. Tapi bagaimanapun negara harus memelopori penyebarluasan karya sastra ini kepada siswa hingga daerah-daerah yang hanya mungkin dijangkau oleh negara, agar negara ada gunanya.
Dengan beberapa  pemecahan masalah tersebut diatas diharap dapat meningkatkan apresiasi siswa kita terhadap sastra sehingga sastra bukan hanya sekedar dikenal akan tetapi dapat memberikan sumbangsih bagi siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya bahwa dengan bersastra kita dapat memperoleh manfaat juga mengetahui fungsinya.

PENUTUP
Peningkatan apresiasi sastra melalui penyebarluasan karya sastra dalam upaya meningkatkan apresiasi siswa terhadap sastra dianggap perlu. Persoalan pertama menyangkut pandangan bahwa apresiasi siswa kita terhadap sastra masih relatif rendah, dan karena itu perlu ditingkatkan melalui program yang amat kongkrit, yaitu menyebarluaskan karya sastra, selain itu pengajaran sastra di sekolah juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan apresiasi siswa terhadap sastra, inilah tempat pertama-tama secara formal seseorang diperkenalkan pada sastra, dan sebisa mungkin kepadanya ditanamkan fungsi sastra.


PUSTAKA ACUAN


Wahid, Sugira. 1997. Kapita Selekta Kritik Sastra. Makassar: CV. Berkah Utami.
Hendry. 2000. Dasar-Dasar Prinsip Sastra. Bandung: Angkasa




Read On 0 komentar

Penampilan atau Ekspresi Tokoh dalam Cerita Rakya Bali “Geguritan I Dukuh Siladri” (Pendekatan Semiotik)

11.06
Oleh: Nilu Geguritan


Abstrak

    Pengenalan pemahaman dan penghayatan peserta didik terhadap nilai-nilai luhur budaya daerah yang menjadi bagian dari kebudayaan nasional adalah amat penting dalam memupuk kepribadian dan kebudayaan bangsa. Apalagi dalam memupuk kepribadian dan kebudayaan bangsa. Apalagi dalam jaman kemajuan IPTEK yang demikian pesat, jangan sampai peserta didik kita terlepas dari akar-akar budaya bangsa. Pengenalan, pemahaman terhadap budaya daerah bukanlah sempit, melainkan untuk memperkaya khasanah budaya nasional, mempererat kesatuan dan persatuan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini dimaksud dengan mengkaji dan meneliti karya sastra daerah dengan pendekatan-pendekatan tertentu salah satunya adalah semiotik akan dapat mendeskripsikan tokoh dalam cerita sehingga membuka pemahaman dan penghayatan masyarakat atau calon pembaca.
    Masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk penampilan atau ekspresi tokoh dalam cerita rakyat Bali.
    Untuk mencapai tujuan dalam  penelitian ini, maka ditetapkan sumber data penelitian yaitu transkripsi dan terjemahan Geguritan I Dukuh Siladri yang merupakan sastra klasik Bali yang diambil dari sebuah lontar milik Gedong Kirlya Singaraja yang dikarang oleh Padanda Nj. Ngoerah yang berasal dari Banjar Teges Cianyar.

1.    PENDAHULUAN
        Pengenalan pemahaman dan penghayatan masyarakat sebagai peserta didik terhadap nilai-nilai luhur budaya daerah yang menjadi bagian dari kebudayaan nasional adalah amat penting dalam memupuk kepribadian dan kebudayaan bangsa. Apalagi dalam jaman kemajuan IPTEK yang demikian pesat. Jangan sampai masyarakat terlepas dari akar-akar budaya bangsa. Pengenalan, pemahaman terhadap budaya daerah bukanlah dimaksud untuk kembali ke masa feodalisme dan kedaerahan yang sempit, melainkan untuk memperkaya khasanah budaya nasional, mempererat kesatuan dan persatuan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika serta berusaha mengungkap tabir kedaerahan dan menciptakan dialog antar budaya dan antar daerah melalui sastra sehingga kemungkinan dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk mewujudkan manusia yang berwawasan keindonesiaan.
        Profinsi Bali cukup kaya dengan sastra daerah yang  mengandung nilai-nilai luhur budaya. Sastra itu mencakup berbagai bentuk dan jenis seperti ungkapan tradisional, cerita prosa, pantuan rakyat dan cerita rakyat dalam bentuk geguritan.
    Geguritan I Dukuh Siladri merupakan salah satu sastra klasik Bali yang diambil dari sebuah lontar milik Gedong Kirtya Singaraja yang dikarang oleh Padanda Nj. Ngoerah November 1933. cerita ini ditulis dengan huruf Bali di atas daun lontar sebanyak 106 helai. Tiap-tiap helai ditulis bolak-balik kemudian lontar ini ditranslitrasikan menjadi 75 halaman.
        Cerita ini terdiri dari 764 bait, yang dibangun oleh delapan tembang seperti tembang-tembang Sinom, Durma, Amada, Qandang dan Genanti.
        Cerita geguritan I Dukuh Seladri dijumpai pula dalam bentuk prosa yang dikarang oleh Kamajaya pada tahun 1986 yang diterbitkan oleh U.P. Indonesia Yogya. Naskah ini berbentuk buku dengan panjang 20,4 cm, lebar 14,3 cm dan tebal 0,4 cm dengan jumlah halaman sebanyak 88 halaman. Pada cerita ini jika dilihat dari isi ternyata masih banyak kekurangannya jika dibandingkan dengan lontar yang tersebut di atas. Pada cerita yang terdapat pada cerita I Dukuh Siladri yang berbentuk prosa berakhir dengan matinya I Dayu Ratu. Sedangkan pada lontar Wy. Buyar menemukan ajalnya pada akhir cerita dan Kusumasari sembuh setelah diobati oleh seorang pendeta seperguruan dengan I Mudita.
        Bentuk dan jenis sastra itu sudah agak banyak yang diteliti, baik penelitian yang berasal dari tim-tim peneliti dari proyek penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan Daerah Bali dan penelitian yang berasal dari Universitas Haluoleo dan Universitas lainnya. Namun yang nampak di Universitas Haluoleo jenis penelitian terhadap sastra daerah Bali hanyalah pengkajian dari segi struktur seperti tema/amanat dan alur atau unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsiknya misalnya moral, nilai pendidikan dan nilai budaya yang terkandung dalam cerita tersebut.
        Penelitian ini menggarap tentang ekspresi semiotik tokoh cerita. Dengan kata lain sesuai dengan konsep semiotik, penelitian ini berusaha mengungkapkan sesuatu yang terdapat di dalam cerita yang terdapat di balik tanda/lambang yang terdapat dalam cerita yang berkaitan dengan tokoh cerita seperti kehidupan tokoh, keadaan tempat tokoh, kedudukan dan peran tokoh dan tanda-tanda tertentu.
        Berdasarkan uraian di atas yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk ekspersi atau penampilan tokoh dalam pendekatan semiotik cerita rakyat Bali pada “Geguritan I Dukuh Siladri?”
        Ruang lingkup  masalah yang diteliti adalah ekspresi semiotik tokoh cerita rakyat Bali pada Geguritan I Dukuh Siladri. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskripsi kuantitatif yaitu berusaha mengungkapkan tkoh sesuai dengan cerita tersebut.
        Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk ekspresi atau penampilan tokoh dalam pendekatan semiotik cerita rakyat Bali pada Geguritan I Dukuh Siladri. Dari deskripsi itu diperoleh gambaran mengenai bentuk penampilan ekspresi semiotik tokoh dalam cerita.
2.    PEMBAHASAN
A.    Teoritis Tentang Semiotik
        Semiotik memiliki tiga komponen dasar yaitu tanda, lambang, dan isyarat. Tanda selalu menunjuk/mengacu pada sesuatu hal yang nyata, misalnya benda, kejadian, tulisan, bahasa, tindakan, peristiwa dan bentuk-bentuk tanda yang lain. Misalnya petir selalu ditandai oleh kilat. Jadi, tanda adalah arti yang statis, umum, lugas, dan objektif. Lambang adalah sesuatu hal atau keadaan yang memiliki pemahaman si subjek kepada objek. Hubungan antara subjek dan objek terselip adanya pengertian sertaan. Misalnya, warna merah putih pada “sang saka Merah Putih” merupakan lambang kebangsaan bangsa Indonesia. Di samping itu warna merah pada bendera kita itu juga melambangkan semangat yang tak mudah dipadamkan, sedangkan warna putih melambangkan makna ‘suci, bersih, mulia, luhur, bakti, dan penuh kasih sayang’. Jadi, lambang adalah tanda yang bermakna dinamis, khusus, subjektif, dan kias dan majas. Isyarat adalah sesuatu hal atau keadaan yang diberikan si subyek kepada obyek. Dalam keadaan ini, si subjek selalu berbuat sesuatu untuk memberitahukan kepada si objek untuk memberitahukan kepada si objek yang diberi isyarat pada itu juga. Jadi, isyarat bersifat temporal (kewaktuan) (Santoso, 1193: 4-6).
        Pierce (2006: 145) membedakan adanya tiga jenis dasar tanda. Ada ‘ikonis’, di mana tanda mirip dengan apa yang diwakilinya (foto mewakili orang, misalnya); ‘indeksikal’, dimana tanda diasosiasikan dengan apa yang ditandai olehnya (asap dengan api, bercak dengan campak).
        Dikemukakan Junus (dalam Sugira Wahid, 2004: 96) bahwa semiotik merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme tidak dapat dipisahkan dengan semiotik. Alasannya adalah karya sastra itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan sistem tanda, tanda dan maknanya, dan konversi tanda, struktur karya sastra tidak dapat dimengerti maknanya secara optimal.
B.    Analisis Tokoh
        Dalam cerita ini yang akan dianalisis yakni Dukuh Siladri, mMudita, sebagai tokoh utama.
a.    Kehidupan dan Perilaku Tokoh
            Sebuah cerita, termasuk cerita rakyat, pada dasarnya berkisah tentang hidup dan kehidupan tokoh-tokoh. Tokoh-tokoh itu sebenarnya tidak lain adalah manusia.
            Dilihat dari fungsinya, tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita rekaan (cerita prosa rakyat termasuk cerita rekaan sebab direka sedemikian rupa oleh si pengarang dalam hal ini anonim) lazimnya dibedakan atas tokoh utama sentral), tokoh bawahan dan tokoh tambahan.
            Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi pusat kisahan, segala sepak terjang atau prilaku berasal dari dan bertumpu kepada tokoh utama. Siladri adalah tokoh utama dalam cerita Geguritan I Dukuh Siladri sebab alur kisahnya bergerak dari dan bertumpu kpeada I Dukuh Siladri.
1.    Siklus Kehidupan
            Dalam Geguritan I Dukuh Siladri peristiwa kealhiran dan masa kecil I Dukuh Siladri tidak diceritakan namun hanya masa dewasanya saja.
            Masa dewasa I Dukuh Siladri dilewatinya  diperantauan. Ia mengembara di hutan yaitu bersama anak dan istrinya di gunung Kawi tepatnya di Istana Mpu Dibyajaya. Sebab melihat adanya tanda-tanda bahwa dunia dipenuhi kejahatan,orang-orang tidak lagi mengenal kebenaran yang abadi sehingga ia berniat untuk mengasingkan diri untuk mencari kebenaran yang kekal. Pada sewaktu-waktu ia tiba di hutan yang lebat melewati bukit kerikil tiba-tiba hujan angin deras sekali anaknya bersendat-sendat menangis. Basah kuyup gemetar tiba-tiba guntur, siladri terkejut selanjutnya mendekati istrinya.
            Keesokan hari bila kembali menjelma, kaka supaya menjadi laki-laki, supaya bertemu berkeluarga, mendoakan, kamu menjadi laki-laki supaya bertemu berkeluarga, mendoakan. Sanggup melayani, kakak membayar hutang, kebaikan kamu sekarang.

            Kemudian istrinya merasakan bahwa perkataan suaminya itu menyedihkan dan kasihan terhadap anaknya masih kecil sudah menderita seperti itu harus kehujanan dalam hutan malam pula.
            Memang begitu orang menjadi manusia, baik buruk ditemukan begini filsafahnya, konon Ida Hyang Iswara, membuat manusia dahulu, bagus wirya sama dewa, tidak ada sakit hati.

            Hari sudah pagi burung-burung berkicau, seperti membangunkan, siladri dan istri bersiap-siap lagi berjalan menuju ke timur menuju gunung Kawi. Semua bunga sedang mekar, ramai tamulilingan, rasa gembira menyapanya dan terlihatlah istana yang megah, istana itu adalah istana Mpu Dibiyaja. Setibanya di depan istana, yang perempuan seketika ditahan istrinya sudah tak bernyawa. Siladri putus asa ia pun ingin menyusul istrinya.
            Seperti sekarang jikalau kamu masih cinta, cari kakak ajakmati, tetapi jangan terlalu lama, anakmu diikutkan, mumpung bersama diajak menderita, supaya jangan pisah, walaupun menemukan sengsara.

    Akhirnya siladri harus merelakan kepergian istrinya memperjuangkan hidupnya untuk mencari kebenaran.
            Kisah kehidupan dewasa I Dukuh Siladri yang dideskripsikan di atas memperlihatkan beberapa simbol-simbol dalam kehidupan yaitu :
            Pertama, kepergian I Dukuh Siladri  mengembara di gunung Kawi menyimbolkan tentang “pilihan hidup”. Manusia pada dasarnya harus menetapkan sendiri jalan hidupnya dalam hal ini untuk mencari kebenaran. Melihat keadaan dunia yang sudah dipenuhi dengan kejahatan dan sudah tak ada kebenaran maka ia harus memilih jalan hidupnya apa pun yang terjadi demi tercapainya dalam mencari suatu kebenaran yang konon di gunung kawi itu ada seorang guru yang patut dijadikan guru olehnya.
            Kedua, ungkapan-ungkapan si pencerita dalam menggambarkan hidup di dunia ini akan selalu mendapatkan hal-hal yang buruk, sakit hati, menderita dan serta mereka yang melambangkan cobaan hidup akibat perbuatan-perbuatan sebelumnya baik di kehidupan atau pada masa kecilnya.
            Ketiga, ungkapan-ungkapan I Dukuh Siladri kepada istrinya melambangkan kesetiaan pada cintanya.
b.    Kedudukan dan Peran Tokoh
            Sebagai seorang ayah dan manusia, I Dukuh Siladri sebagai tokoh yang memperlihatkan peranan yang cukup besar yaitu merawat dan bertanggung jawab terhadap anak-anak dan keluarganya.
            Setelah I Dukuh Siladri mendapatkan kebenaran dan tentang kehidupan manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan antara satu saling bergantung tidak dapat berdiri sendiri I Dukuh mengabaikan dirinya melalui perlakuan atau tindakan yang berhubungan dengan peran sebagai ayah dan manusia yang dalam kebenaran.
            Ayah memberitahu kamu, tingkah laku menjadi anak, jangan berani kepada leluhur, yang sudah dianggap guru, tiada yang tersebut guru. Guru rupakan guru wisesa,guru swadyaya selanjutnya.
            Yang empat memang benar, tua orang, tua dengan sastra, tua umur, tuang sang wiku, jangan kamu membantah kepada orang yang dikatakan tua, p atut dimintai kebenaran, oleh karena beliau mengetahui lebih dahulu.
            I Duh Siladri selalu mengajarkan anaknya untuk mendekatkan diri pada sang pencipta. Tidak pernah lalai mengingatkan, ia pun tak pernah lalai pula untuk melakukan hal itu agar anak-anaknya selalu ingat.
            Setelah anaknya tumbuh dewasa, prilaku yang cantik, I Dukuh Siladri merasa anaknya sudah pantas untuk menikah. I Dukuh Siladri sudah menyiapkan calon suami untuk anaknya konon anak saudaranya sendiri.
            Sudah menyatu pikirannya, I Dukuh Siladri lalu memanggil anaknya keduanya, anaknya datang menghadap, bersamaan duduk bersampingan, I Dukuh tersenyum berkata, anakku sayang berdua, seperti ayam terkurung, lama sudah binal bulunya sudah lebat.
            Sudah waktunya diadu
            Anaknya pun memahami keinginan ayahnya karena ayahnya sudah pernah pula menjelaskan bahwa mereka sudah ditunangkan sejak kecil. Anaknya pun menikah dan hidup bahagia.
            Sebagai seorang anak dalam ajaran harus membayar hutang. Hutang kepada orang tuanya slah satunya dengan cara mengabenkan orang tuanya. Karena orang tua menantu atau saudara I Dukuh Siladri sudah meninggal di desanya.
            Begini sebenarnya tingkah laku manusia menjadi anak, tak berhenti berbuat baik, kebaikan orang tuamu, sebab kebanyakan berhutang, kepada orang tua berdua, ayah dan ibu, dengan baik beliau menciptakan.
            Nah begitu berat orang memiliki anak, karena pantas seperti sekarang kamu berdua membayar hutang kepada leluhur sekarang, bersama pulang berdua, orang tua kamu diupacarai.
            Anak-anaknya pun mengikuti perkataan ayahnya dengan segala persiapan. Berangkatlah mereka dalam perjalanan mereka melewati lembah gunung dan hutan namun ditemani binatang-binatang yang tinggal di hutang dekat istana. Karena binatang itu selalu dipelihara oleh Mpu Siladri dan anak-anaknya.
            Dari uraian dan cuplikan cerita di atas jelas bahwa rasa tanggung jawab dan pengabdian terhadap anggota keluarga dapat merupakan simbol terhadap sinar kejelasan. Rasa tanggung jawab dan pengabdian seseorang terhadap keluarganya harus diwujudkan dalam bentuk tindakan. Begitu pula tanggung jawab terhadap lingkungan.
            Hubungan antara kedua anak itu terhadap binatang-binatang merupakan lambang atau simbol bahwa manusia, dengan hewan serta lingkungan saling membutuhkan.
3.    KESIMPULAN
            Adapun kesimpulan uraian di atas yaitu :
1.    Cobaan-cobaan yang kita hadapi adalah disebabkan oleh perbuatan kita sendiri
2.    Dalam hidup mampu menentukan pilihan hidup demi kebaikan
3.    Kesediaan dalam berkeluarga sangat penting
4.    Rasa tanggung jawab dan pengabdian harus diwujudkan dalam bentuk tindakan.

DAFTAR PUSTAKA


Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta:  Jala Sultra.

Karyawan, I Ketut. 1991. Geguritan I Dukuh Siladri. Jakarta: Depdikbud.

Mantra, Ida Bagus. Tanpa Tahun. Tata Susila Hindu Dharma. Jakarta: Pansada Hindu Dharma Pusat.

Santoso, Puji. 1993. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa.

Sub Proyek Bimbingan Pengolahan dan Dakwah Agama Hindu dan Budha, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Departemen Agama Republik Indonesia. Tanpa Tahun. Hari Raya/ Perahunan Bagi Umat Hindu. Jakarta.

Wahid, Sugra, M.S. 2004. Kapita Selekta Kritik Sastra. Makassar: CV. Berkah Utami.



Read On 0 komentar

Kode dalam Kinoho (Puisi Lama Masyarakat Tolaki)

00.26
          oleh : Eka Sufyati


ABSTRAK


              Penelitian yang berjudul kode dalam puisi Kinoho sebagai salah satu bentuk puisi lama  masyarakat Tolaki bertujuan untuk mendeskripsikan kode-kode dalam kinoho yakni memberikan kode semik (SEM), kode simbol (SIM) dan kode kultural (KUL atau kode budaya, penelitian ini diharapkan pula memberikan sumbangan terhadap usaha-usaha inventarisasi hasil-hasil karya sastra klasik daerah Tolaki, yang tampaknya sudah mulai dilupakan dan diabaikan oleh masyarakatnya.

              Bertolak dari tujuan tadi, maka penelitian ini mengkaji masalah “bagaimanakah deskripsi kode dalam puisi kinoho sebagai salah satu bentuk puisi lama masyarakat Tolaki”. Untuk lebih terarahnya dan terfokusnya pembahasan, maka masalah tadi dibatasi dalam ruang lingkup, yakni: (1) Kode semik (SEM) dalam kinoho sebagai puisi lama Tolaki, (2) kode simbol (SIM) dalam kinoho sebagai puisi lama Tolaki, (3) Kode kultural (KUL) dalam kinohoi sebagai puisi lama Tolaki.

              Untuk mendapatkan data dan informasi yang objektif, peneliti berusaha mencari dan menentukan informan sebagai sumber data, informan itu adalah masyarakat Tolaki yang berdialek Konawe, yang diharapkan mampu memberikan informasi tentang kinoho, di dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik rekam, teknik simak dan catat, serta teknik pustaka. Untuk menganalisis data digunakan tahapan analisis transkripsi rekaman data, klasifikasi data, dan interpretasi data (kode).




              Pada hakikatnya pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, merata materil dan spritual berdasarkan Pancasila. Hal ini berarti bahwa sasaran pembangunan meliputi segala aspek kehidupan manusia, baik yang sifatnya jasmani maupun rohani, yang mengarah pada perbaikan dan peningkatan taraf hidup bangsa Indonesia.

              Salah satu bidang sasaran pembangunan adalah bidang kebudayaan, baik kebudayaan nasional maupun  kebudayaan regional atau kedaerahan. Antara  kebudayaan nasional dengan kebudayaan daerah memang tidak dapat dipisahkan, sebab pada dasarnya kebudayaan daerah merupakan khazanah kebudayaan nasional yang memiliki andil yang cukup besar dalam rangka mendukung dan mengembangkan kebudayaan nasional tersebut.

              Bahasa dan sastra daerah merupakan salahs atu bagian dari kebudayaan daerah. Dengan bahasa dan sastra daerah, masyarakat pendukungnya dapat berkomunikasi dan berinteraksi dalam berbagai keperluan di antara mereka. Sebagai salah satu kekayaan budaya, bahasa daerah mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah. Di dalam setiap program pembangunan (pelita), keberadaan bahasa daerah dan pembinaannya senantiasa mendapat tempat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang merupakan pola pengejawantahan dari cita-cita dan tujuan pembangunan yang multidimensi.

              Begitu pula dalam TAP MRP No. II/MPR/1993 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara untuk Pelita VI, pada salah satu poinnya, diuraikan “Pembinaan bahasa daerah perlu terus dilanjutkan dalam rangka mengembangkan serta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia dan khazanah kebudayaan nasional sebagai salah satu unsur jati diri dan kepribadian bangsa, perlu ditingkatkan penelitian, pengkajian dan pengembangan bahasa dan sastra daerah serta penyebarannya melalui berbagai media”.

              Membicarakan kebudayaan, bidang kesusastraan tidak boleh dilepaskan begitu saja, karena kesusastraan memiliki hubungan yang erat dengan kebudayaan. Ada dua macam hubungan yang dimiliki keduanya, yaitu: pertama, sastra menggunakan bahasa sebagai medianya, sedangkan bahasa itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan; kedua, sastra merupakan bagian dari kesenian, sementara kesenian juga merupakan cabang dari kebudayaan.

              Eksistensi sastra sebagai bagian dari kebudayaan itu merujuk pada kemampuannya dalam merangkum berbagai misi humanis yang mengarah pada upaya memanusiakan manusia. Metode dan pendekatannya yang spesifik dengan mengutamakan unsur estetika dan etika berbahasa, mampu menarik minat manusia dari berbagai kalangan untuk menggandrunginya. Selain itu, ketertarikan tersebut disebabkan pula olah kodrat manusia yang selalu mencintai keindahan, termasuk keindahan dalam berbahasa. Dalam hal ini, para ahli telah menyimpulkan bahwa manusia adalah homo fabulans (makhluk bersastra).

              Lewat media bahasa, sastra dapat dengan leluasa membentangkan segala sendi dan perikehidupan manusia secara luas dan dalam. Tuangan pengalaman dalam sastra itu berisi cita kemanusiaan, cinta kasih dan ajaran lainnya yang sangat berguna bagi manusia dalam kehidupannya. Bahkan pada misi tertentu sastra dapat mengemban fungsi sebagai sendi kehidupan yang sifatnya intelektual, pendidikan rohani, serta hal-hal yang sifatnya personal maupun sosial.

              Kemampuan sastra mengemban semua misi itu, membuatnya digunakan sebagai alat pendidikan sejak zaman dahulu. Karya sastra yang dihasilkan oleh nenek moyang kita pada masa lampau membuktikan hal itu. Berbagai ajaran kehidupan baik untuk pembinaan pribadi maupun masyarakat, tertuang di dalam karya sastra klasik produk para leluhur bangsa Indonesia yang dapat ditemui di berbagai daerah di Indonesia.

              Hanya, yang menjadi masalah adalah kebanyakan dari karya sastra klasik itu belum dimunculkan di atas permukaan, sehingga terkesan sebagai barang langkah yang asing bagi masyarakat. Padahal, bahasa dan sastra daerah telah memperlihatkan perannya yang besar dalam penataan kebudayaan nasional. Maka yang perlu disadari sepenuhnya adalah pentingnya usaha penggalian, inventarisasi, dan pengembangan bahasa dan sastra daerah, yang tidak saja memiliki arti penting bagi masyarakat pendukungnya, tetapi juga besar manfaatnya untuk bangsa dan negara.

              Masalah lain yang perlu dipahami dan diantisipasi adalah nasib karya sastra lama itu yang tersebar di berbagai daerah yang semakin hari semakin terdesak oleh perkembangan zaman. Era informasi dengan peralatan yang super canggih semakin memperlancar arus globalisasi yang melanda hampir seluruh pelosok negeri. Pengaruh dari era globalisasi ini telah memperlihatkan dominasinya dalam merebut simpati masyarakat khususnya generasi muda. Akibatnya yang timbul dari situasi ini adalah kebudayaan lama, termasuk di dalamnya kesusastraan lama ditinggalkan begitu saja.

              Penyebarannya yang bersifat lisan sehingga tanpa dokumentasi dan penutur setia yang semakin berkurang karena usia tua, serta kurangnya minat generasi muda menjadikan sastra lama terancam kepunahan. Dan apabila ancaman itu tidak ditanggulangi dengan cermat dan cepat, maka kita akan menderita kerugian yang tak ternilai harganya. Karya sastra lama di daerah akan hilang tanpa bekas, padahal dalam sastra lama itu tersimpan mutiara kehidupan yang sangat berharga untuk diwarisi dan diwariskan pada generasi selanjutnya.

              Kekayaan muatan nilai dalam sastra lama tidak perlu disangsikan lagi. Manfaatnya amat banyak, seperti dikemukakan oleh A. Ikram, “Dengan mempelajari dan memahami karya sastra lama dapat dihayati pikiran serta ciri-ciri yang pada zaman dahulu menjadi pedoman nenek moyang. Di pihak lain untuk memperluas pandangan hidup kemanusiaan, memperluas pengetahuan tentang dunia luar di luar masyarakatnya” (dalam Esten, 1984: 6).

              Jelaslah, dengan menginventarisasi sastra lama dengan penelitian dan upaya lebih lanjut untuk mengkajinya, tak lain adalah upaya pencarian mutiara kehidupan yang tinggi nilainya. Dengan pengkajian itu, dapat disingkap tirai kehiduan masa lampau yang dapat dijadikan sebagai tempat bercermin bagi kehidupan sekarang. Bahkan lebih dari itu, dapat dijadikan tumpuan bagi langkah kita di masa yang akan datang. Rangkaian fungsi itu sepantasnya mendapat perhatian yang serius agar dapat memberikan manfaat bagi perwujudan masyarakat Indonesia seutuhnya.

              Satu dari sekian banyak hasil kesusastraan lama yang sudah mulai dilupakan oleh generasi penerusnya adalah “Kinoho”. Kinoho berasal dari kata “inoho” yang berarti ‘dijerat atau diikat’, atau ‘suara mengikat’. Selain itu dapat pula berarti ‘kiasan atau sindiran’. Oleh orang tua-tua, kinoho ini dianggap sebagai kesusastraan kebanggan. Berlomba-lomba orang menghafal syair-syairnya dan mempelajari makna yang terkandung di dalam kinoho yang dihafalnya tersebut.

              Kinoho biasanya disampaikan pada acara-acara adat seperti perkawinan, pesta rakyat, pelamaran, dan acara lainnya, yang berfungsi sebagai sarana hiburan sekaligus sebagai sarana pendidikan yang menyampaikan pernik-pernik ajaran yang berguna bagi manusia. Selain pada acara adat, dapat pula digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan isi hati, baik di kala jatuh cinta, patah hati dan dapat pula digunakan untuk menyindir seseorang agar seseorang sadar akan kesalahannya.

              Bahasanya yang indah serta nilai-nilai kehidupan yang sarat di dalamnya, lebih dari cukup untuk menobatkannya sebagai karya sastra yang bermutu tinggi. Tetapi ketinggian nilai dan mutu karya sastra peninggalan leluhur itu tidaklah sepenuhnya diketahui oleh para generasi muda, sehingga minat dan perhatiannya lebih banyak diarahkan kepada karya sastra modern yang memang lebih banyak tersedia di sekitarnya.

              Penelitian tentang sastra lama Tolaki, khususnya puisi memang telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Namun,  penelitian yang mengkhusus pada kinoho sebagai salah satu puisi lama Tolaki, baik tentang bentuk, maupun tentang isi, masih kurang. Kalaupun ada, itu pun belum secara komprehensif mendeskripsikan segala unsurnya, baik struktur fisik dan batin, maupun tentang kode-kode yang digunakan dalam kinoho tersebut. Oleh karena itu, peneliti ingin ikut menyumbangkan sesuatu dalam upaya pendokumentasian kinoho sebagai salah satu kekayaan bentuk puisi daerah Tolaki dalam hal ini, mengenai deskripsi kode dalam kinoho.

              Kode yang dimaksud disini adalah perspektif kutipan, khayalan tentang struktur. Kita hanya mengetahui permulaan dan akhirnya. Dengan demikian, kode dalam penelitian ini memiliki arti telaah, yaitu mengalir pada apa yang ditulis dalam puisi itu. Ada tiga kode yang akan diungkap dalam puisi kinoho ini, yaitu kode semik (SEM), kode simbol (SIM) dan kode kultural (KUL). Dengan ketiga kode tersebut, seseorang mampu mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan anasir-anasir bersama-sama dalam fungsi serba khusus.

              Penelitian ini mengambil satu sumber data yaitu puisi kinoho masyarakat Tolaki di Kabupaten Kendari. Di pilihnya puisi kinoho masyarakat Tolaki di Kabupaten Kendari. Dipilihnya puisi kinoho masyarakat Tolaki di Kabupaten Kendari sebagai sumber data, didasarkan atas pertimbangan: (1) puisi Kinoho diangkat dari puisi rakyat atau puisi lama yang diperkirakan memiliki sejumlah indikator sesuai dengan judul penelitian, (2) Bahasa yang digunakan adalah bahasa Tolaki dialek Konawe, (3) Kode-kode Roland Barthes belum pernah diterapkan peneliti-peneliti lain dalam rangka menelaah kinoho. Kode-kode yang dimaksud: kode semik (SEM) yang terdiri atas uraian tentang larik, bait, suku kata, dan pola persajakan dalam kinoho; simbolik (SIM), yang berfungsi melacak tema dan amanat kinoho; kultural (KUL), yang ditandai adanya budaya,sikap hidup yang tersurat dan tersirat.

              Dokumentasi dan inventarisasi sastra lama seperti itu akan sangat bermanfaat khususnya dalam upaya pelestarian dan pewarisan nilai-nilai luhur budaya nenek moyang kepada generasi penerus bangsa. Sebab dengan jalan pewarisan itulah, cita-cita untuk membentuk generasi penerus yang tanggap akan terwujud. Hal ini sejalan dengan kesimpulan yang diutarakan oleh Robson bahwa karya sastra itu merupakan pembentuk norma, baik pada orang sesamannya maupun untuk generasi selanjutnya (dalam Hartoko, 1986: 4).

A.     Pengertian Kinoho Secara Umum

              Kinoho merupakan puisi lama masyarakat Tolaki yang masih digunakan di dalam pertemuan-pertemuan adat, dan pertemuan-pertemuan rakyat. Kinoho yang masih dikenal oleh masyarakat Tolaki terdiri atas tiga jenis, yaitu: kinoho mbesadalo, kinoho agama, dan kinoho singgu. Ketiga jenis kinoho inilah yang akan dianalisis berikut.

1.       Kinoho Mbesadalo

              Kinoho mbesadalo adalah salah satu jenis kinoho pergaulan anak muda. Kata “mbesadalo” berasal dari kata “mbe + sa + dalo”, dari kata “ana dalo”. Mbe berarti ‘untuk’, sa berarti ‘sama’, dan dalo ‘anak’. Jadi kata “mbesadalo” berarti untuk anak sesama umur’. Dengan demikian, kinoho mbesadalo adalah salah satu jenis kinoho untuk pergaulan anak-anak muda, baik pemuda maupun pemudi (gadis.

2.       Kinoho Agama

              Kinoho agama adalah salah satu jenis kinoho yang biasanya dijumpai dan diungkapkan pada acara-acara yang bersifat ritual atau keagamaan. Seperti baca doa, selamatan, bersanji, dan tahlilan atau ta’ziah.Biasanya pada acara-acara tersebut, diawali dengan penyampaian nasihat dari pemuka agama yang di dalamnya diselipkan puisi kinoho.

3.       Kinoho Singgu

              Kinoho singgu adalah salah satu jenis kinoho yang khusus untuk menyinggung atau menyindir seseorang baik secara halus maupun secara kasar. Kata “singgu” berarti ‘singgung’ atau ‘tersinggung’ yang bersinonim dengan kata “sindir” yang berarti ‘menyindir’ atau ‘bersindiran’.

B.      Pengertian Kinoho Secara Khusus

1.       Kode Semik (SEM)

              Interpretasi kode semik mengacu pada unsur semik itu sendiri, yaitu unsur-unsur yang membangun sebuah puisi yaitu unsur larik/baris, suku kata dalam larik, bait, dan persajakan atau rima.

              Sebagaimana dikemukakan di atas, jumlah kinoho terdiri atas tiga jenis yaitu kinoho mbesadalo, kinoho agama, dan kinoho singgu. Kinoho mbesadalo biasanya disampaikan secara berbalasan atau berlawanan antara pemuda dan pemudi yang ingin mengutarakan maksud hati mereka, dengan didahului oleh pemuda selanjutnya dibalas pula oleh pemudi, sehingga dengan jalan demikian maksud mereka berdua dapat terwujud. Kinoho agama biasanya disampaikan oleh penghulu adat atau tokoh agama, di dalam acara-acara ritual atau keagamaan. Kinoho ini biasanya berupa petuah atau nasihat kepada manusia. Sedangkan kinoho singgu terdiri atas singgu alusu ‘sindiran halus’, dan singgu ‘kasara’ ‘sindiran kasar’, yang juga disampaikan dalam bentuk sindir menyindir antara pemuda dan pemudi atau sindiran kepada orang yang berbuat kesalahan tanpa disadari, dengan maksud saling menasihati atau saling mengingatkan apabila terjadi salah paham atau salah tingkah.

       Analisis kode semik ini akan menitikberatkan pada unsur-unsur yang membangun puisi. Unsur-unsur tersebut berupa unsur bentuk puisi. Dalam hal ini, larik, bait, dan pola persajakan atau rima.

2.       Kode SIM (Simbol)

              Interpretasi kode SIM ini dimaksudkan untuk mengungkap tema dan amanat pada puisi kinoho.

              Berdasarkan jenis kinoho yang ada, dapat dirumuskan beberapa tema. Rumusan tema ini merupakan intisariyang ditemukan dalam puisi kinoho.

§  Kinoho yang Bertema Percintaan (cinta kasih)

              Telah menjadi fitrahnya manusia untuk saling cinta-mencintai dan mengasihi, utamanya pada lawan jenisnya. Fitrah manusia ini tidak dapat dibendung, karena dengan sendirinya, perasaan seperti itu akan meluap melewati dinding-dinding hati manusia. Proses pertautan dua hati anak manusia biasanya diawali dengan perkenalan. Dari perkenalan, timbullah benih-benih kasih, yang biasanya dilegitimasi dalam institusi perkawinan, sehingga menyatukan dua hati yang dahulunya terpisah. Dalam ikatan perkawinan dua manusia itu akan berusaha memadu kasih demi kebahagiaan mereka. Akan tetapi, tidak jarang pula ada pasangan yang  perjalannya tidak mulus, berbagai benturan akan mereka hadapi, sehingga tidak jarang pula terjadi perpisahan atau perceraian.

              Fase-fase kehidupan seperti ini pada umumnya dijalani oleh manusia. Dan ini dapat pula kita temui di dalam bait-bait kinoho. Tema percintaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kinoho, karena tema inilah yang banyak digemari oleh para muda-mudi.

              Kinoho yang termasuk dalam tema ini adalah “kinoho mbesadalo”. Kinoho mbesadalo ini adalah salah satu jenis kinoho pergaulan anak muda, baik muda maupun pemudi di dalam memadu cinta kasih, dengan berlawanan atau berbalas-balasan.

§  Kinoho yang Bertema Agama

              Kinoho yang termasuk kategori ini adalah kinoho agama. Sebagaimana telah disinggung terdahulu, kinoho agama merupakan jenis kinoho yang biasanya dijumpai dan diungkapkan pada acara yang bersifat ritual atau keagamaan, seperti baca doa, selamatan, bersanji, dan tahlilan atau ta’ziah. Penyampaiannya berupa nasehat oleh pemuka agama atau penghulu adat.



§  Kinoho yang Bertema Sindiran

              Kinoho yang bertema sindiran, biasanya isinya menyindir orang-orang yang mempunyai kesalahan, tetapi tidak  menyadarinya. Sindiran ini dimaksudkan agar orang tersebut dapat mengoreksi dan mengintrospeksi dirinya sendiri.

              Kinoho yang bertema sindiran ada dua macam, yaitu kinoho dengan sindiran halus dan kinoho dengan sindiran kasar.

C.     Kode KUL (Kultural)

              Kinoho merupakan puisi lisan Tolaki yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Tolaki. Sekarang ini kinoho sudah jarang kita temui, walaupun demikian masih terdapat beberapa orang yang menguasai puisi kinoho sekaligus mengetahui latar belakang kinoho itu sendiri.

              Berdasarkan makna dan artinya yang terkandung dalam kinoho, maka dalam interaksi sosial kinoho dapat diungkapkan dan ditampilkan sebagai alat yang dapat menghubungkan antara satu dengan yang lain. Pengungkapan tersebut dilakukan melalui bahasa  lisan dengan tujuan memuji, menghibur, mengejek, menghina, menasehati, melarang, dan memprotes. Pengungkapan kinoho terjadi mulai dari lingkungan keluarga, karib kerabat, tetangga, sampai pada masyarakat luas.

              Pengungkapan melalui kinoho itu untuk menghindari keterusterangan atau kelugasan arti dengan menjaga supaya lawan bicara tidak tersinggung, di samping itu, ada keindahan bahasa yang dirasakan baik pembiara maupun pendengar sebagai nilai sastra yang tinggi.

              Begitulah berlanjut hari demi hari sehingga terjadilah sindir-menyindir antara pemuda dan pemudi sampai berlanjut terus, dan akhirnya meluas pada pertemuan-pertemuan lain selain pertemuan menuai padi. Di antaranya melalui pertemuan-pertemuan adat atau pertemuan-pertemuan rakyat, seperti gotong royong, kerja bakti, pertemuan adat seperti peminangan, pesta perkawinan, bersanji, dan pemakaman atau tahlilan, dan sebagainya.

              Sifat sabar, merupakan sifat yang dimiliki oleh masyarakat Tolaki khususnya pemuda yang ingin mencintai seseorang. Walaupun pemuda harus menunggu lama bahkan sampai lepas dari tangan orang lain, dia bersedia menunggu. Selain kesabaran, juga ulet, dan etkun, serta setia memegang janji untuk saling mencintai. Sifat lain yang dimiliki oleh masyarakat Tolaki adalah rajin sehingga membenci orang yang malas. Di samping itu juga terdapat sifat merendah tidak mau menonjolkan atau membanggakan diri, walaupun kenyataannya demikian.

              Semua sifat atau keseluruhan sifat tersebut di atas tergambar pada bait-bait kinoho.

1.       Kode Budaya yang Tersirat

              Kode budaya yang diperoleh berdasarkan pemahaman isi puisi kinoho, secara keseluruhan dapat dirinci sebagai berikut :

(1)  Kenota dadiki hende ino

       Mano menggau nggo dadi:ka

       ‘Kalau tidak jadi sekarang

       Pada hari nanti kan jadi jua’


              Kutipan kinoho di atas mengandung sikap optimisme pemuda Tolaki di dalam mengerjakan atau menginginkan sesuatu, atau dapat pula dikatakan sikap sabar menunggu sesuatu yang belum diperoleh, walaupun belum didapatkan sekarang ini tetapi di suatu saat kan jadi jua.

2.    Kode Budaya yang Tersurat

              Kode budaya yang diperoleh berdasarkan deskripsi kinoho, dapat dikemukkan sebagai berikut :

§  Sikap Hidup

              Sikap hidup orang Tolaki yang tersurat dalam kinoho adalah (1) taku/ mootaku ‘takut’, (2) meteolu ‘sabar menunggu’, (3) kerja keras, (4) menjunjung tinggi adat.

              Tak/motaku ‘takut’ merupakan prinsip pemuda Tolaki untuk memegang janji. Takut dalam arti pantang untuk mengingkari janji. Apabila janji telah terucap takkan mungkin diingkari lagi. Di samping itu, perasaan takut ini dimaksudkan juga dengan menghargai. Menghargai dalam arti apabila telah mengucapkan janji untuk sehidup semati, tentu kita akan menghargai janji kita sendiri, di samping itu kita menghargai/menghormati orang yang kita janjikan baik keluarganya, karib kerabatnya, maupun diri seorang gadis. Jadi takut di sini berarti takut baik terhadap reaksi terhadap ancaman fisik maupun sebagai rasa takut akibat kurang enak suatu tindakan. Dengan demikian takut bukan berarti takut terhadap hal-hal yang menakutkan melainkan takut yang lebih bersifat hormat.

              Untuk jelasnya dapat dilihat pada kutipan berikut :

       Koro bite batako

       Inea bata-bata

       Kumokea metako

       Maku tetaku-taku


       ‘tidak usah ragu-ragu

       Tidak usah bimbang

       Aku telah tetapkan

       Dan takut akan ingkar janji’


              Meteolu ‘menunggu’ merupakan sikap hidup orang Tolaki yang sabar menunggu apabila ada sesuatu yang diinginkannya, apalagi yang dinginkannya itu adalah sungguh diharapkan. Seperti pada larik kinoho : “keno tadadiki ine waipodemu, kuolui ari ine kaeno tono” Kalau tidak jadi di waktu mudamu, kutunggu lepas dari tangan orang’.

              Kuolui ‘kutunggu’ atau ‘saya menunggu’ merupakan pernyataan kesetiaan atau kesabaran orang Tolaki di dalam menanti yang mau dicintai lepas dari tangan orang atau dicampakkan orang lain pun dia tetap bersedia menunggunya.

              Hal ini dipertegas pula dengan kinoho : “Kuolui keno tebinda, hanumuika pemberahi-rahianggu” ‘Aku menunggu engkau lepas/bebas hanya kepadamu aku mengharap’. Pomberahi-rahianggu ‘mengharap’ bukan berarti dia mengemis tetapi merupakan pernyataan yang sangat dalam supaya gadis yang ingin dicintainya betul-betul yakni kalau memang dia sungguh-sungguh ingin mencintainya.

              Sikap hidup kerja keras tergambar pula dalam kutipan berikut :

       Ana nda: tinongga

       Ari la:uleno

       Mobue-bue galu

       Mobale ulu-ulu


       ‘Sebagai seorang diri

       Yang hidup sendirian

       Harus mengayun tangan

       Membanting tulang’


              Dalam rangka memperoleh sesuatu, seorang yang hidup sebatang kara, harus bekerja keras mengayun tangan dan membanting tulang demi mencapai hasil yang diinginkan.

              Sikap hidup menjunjung tinggi adat orang Tolaki seperti pada kinoho berikut:

       La:ito moramba

       Merambi mo:oliro

       Tobangu sara

       Towalu holo:io


       ‘Sedang mempersiapkan

       Segala sesuatunya

       Untuk membawa adat/mengangkat adat

       Mengiring maksud suci’


              Jadi, orang Tolaki apabila ingin menikah dia harus mempersiapkan segala sesuatunya demi mencukupi persyaratan yang dikehendaki oleh peraturan adat Tolaki, dalam arti sebagai wujud penghargaan terhadap adat yang ada, olehnya itu segala persyaratan menurut ketentuan adat yang ada haruslah mencukupi segala sesuatunya agar adat yang ada haruslah mencukup segala sesuatunya agar adat tetap terjunjung tinggi sebagai salah satu wujud tradisi yang dijunjung tinggi.


DAFTAR PUSTAKA



Esten, Mursal. 1984. Sastra Indonesia dan Tradisi Subkultur. Bandung: Angkasa.


Hartoko, Dick, dkk. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Jakarta: Pustaka Prima.




Read On 0 komentar

Total Tayangan Laman

kedai estetik. Diberdayakan oleh Blogger.

estetik